I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia
merupakan negara tropis di mana buah-buahan tropis merupakan
tanaman yang dapat
tumbuh dengan baik
di Indonesia. Banyak tanaman
buah tropis yang
kini mulai dibudidayakan
untuk kemudian diperjualbelikan. Tidak
hanya dalam bentuk
hasil akhir berupa
buah, tetapi bibit tanaman pun
kini menjadi bisnis bagi sebagian kalangan.
Tanaman
Kelengkeng (Dimocarpus longan)
berasal dari daerah
Sri lanka, India
Selatan dan Cina
yang hingga dewasa
ini ditanam di
beberapa negara Asia,
Australia, Hawaii, dan
Florida (Watson, 1984).
Tanaman kelengkeng dibawa
ke Indonesia sekitar
tahun 1700-an oleh
masyarakat Tionghoa sebagai
obat sakit sesak
dada dan sebagai
buah-buahan untuk menyambut tahun baru imlek.
Kelengkeng
berdasarkan bunganya dibagi
menjadi tiga kelompok, yaitu
berkelamin tunggal, berbunga
jantan dan betina
atau disebut berumah satu,
serta hermafrodit. Pada
pohon berumah satu
dan hermafrodit, proses penyerbukan
dan pembuahan mudah
terjadi sehingga tidak
perlu ditanam berpasangan.
Tanaman kelengkeng hermafrodit
atau berumah satu
kadangkadang tidak berbunga
atau hanya berbunga
dan berbuah sedikit
walaupun pada musimnya
yaitu sekitar bulan
September. Pembungaan dalam
suatu pohon hanya
terjadi pada beberapa
ujung ranting, sehingga
produktivitas tanaman sangat
rendah (Yulianti et al, 2007). Guna
mengatasi permasalahan tersebut, perlu
dilakukan usaha penanaman
pohon-pohon kelengkeng baru yang kualitas
dan kuantitas produksinya
tinggi. Perbanyakan bibit
untuk mengganti pohon-pohon
kelengkeng yang telah tua dan tidak produktif, serta untuk dijual.
Tanaman
kelengkeng bukan hanya
dibudidayakan sebagai kegemaran dan
koleksi saja, tetapi
juga dapat ditekuni
sebagai bisnis. Salah
satu yang menekuni
budidaya kelengkeng sebagai bisnis
adalah CV. Telaga Nursery.
Telaga
Nursery merupakan badan
usaha berbentuk commanditaire 1 venootschapp
(CV) yang bergerak dalam
bidang pembibitan dan pemasaran bibit kelengkeng. Lokasi kebun berada di
Kawasan Pemukti Baru Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten.
Ada empat jenis kelengkeng yang cocok ditanam
di dataran rendah yang diproduksi oleh CV. Telaga Nursery yaitu kelengkeng
Pingpong, kelengkeng Diamond River,
kelengkeng Kristalin dan
kelengkeng Itoh. Kelengkeng Diamond River
merupakan kelengkeng yang berasal
dari Cina, kelengkeng Pingpong
berasal dari Vietnam,
dan kelengkeng Kristalin dan
Itoh dari Thailand.
Berikut ini kesamaan
dan keunggulan dari
keempat jenis kelengkeng tersebut : Tabel 1 Kesamaan dan
Keunggulan Kelengkeng Pingpong, Diamond River, Kristalin, dan Itoh Pingpong Diamond River
Kristalin Itoh Ukuran Buah Paling besar
Lebih kecil Lebih kecil Lebih kecil Buah Berair
Berair Berair Kering Rasa Buah Manis
Manis Manis Manis Tajuk Buah Menjulur
Rimbun Rimbun Rimbun Daun Oval, keriting Lancip, gelombang Lancip, gelombang Lancip, gelombang, lebih besar Usia Buah 2,5 tahun
3 tahun 3 tahun 3 tahun Sumber : Leaflet Telaga Nursery
(2007) Berdasarkan Tabel 1
diketahui bahwa ukuran
buah kelengkeng Pingpong paling besar dibandingkan dengan
ketiga kelengkeng lainnya. Jika dikonversikan
ke dalam ukuran
milimeter terdekat untuk
keempat buah kelengkeng
tersebut maka diameter
buah kelengkeng Pingpong
40 mm, diameter
buah kelengkeng Diamond River,
Kristalin, dan Itoh
± 30 mm.
Keempat
varietas diatas merupakan
komoditas yang paling
banyak permintaan.
Saat ini, Telaga Nursery merupakan nursery di
Kabupaten Klaten yang bibitnya memiliki
sertifikat tanaman buah-buahan
berkualitas Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Provinsi Jawa
Tengah (BPSB Jateng). Ada tiga jenis
kelengkeng Telaga Nursery
yang bersertifikat BPSB
Jateng yaitu kelengkeng
Pingpong, kelengkeng Diamond
River, dan kelengkeng
Itoh dimana masing-masing
kelengkeng memiliki nomor
sertifikat berdasarkan tabel 2.
Tabel 2. Sertifikat BPSB untuk Kelengkeng
Pingpong, Kelengkeng, Diamond River, dan
Kelengkeng Itoh Telaga Nursery Tahun No. Jenis
Sertifikat Pengecekan ulang 1.
2.
3.
Pingpong Diamond river Itoh Kk.C/JT/001-020.II/15/
Kk.D/JT/021-024.II/15/ Kk.Itoh/JT/025-026.II/15/ November November November Sumber : BPSB Jateng (2009) Pengendalian
kualitas merupakan aktivitas pengendalian proses untuk mengukur apakah bibit
kelengkeng tersebut sudah memenuhi
standar yang telah ditetapkan atau belum dengan cara
membandingkan dengan spesifikasi atau
persyaratan, dan mengambil tindakan penyehatan yang sesuai apabila ada perbedaan
antara penampilan yang
sebenarnya dan yang standar. Bibit
yang memenuhi standar adalah
bibit yang bersertifikat BPSB didasarkan pada tinggi tanaman minimal 25 cm per 10 bulan, anakan
bibit berasal dari indukan yang sudah pernah
berbuah, daun hijau
segar, batang kekar,
antara sambungan entres kelengkeng terlihat sempurna. Tujuan
dari pengendalian kualitas adalah untuk mengendalikan
kualitas produk atau
jasa yang dapat
memuaskan konsumen.
Kualitas sebagai hal terpenting persaingan
pembibitan tanaman dapat dirumuskan sebagai
jaminan terhadap segala
sesuatu yang dapat memenuhi kepuasan konsumen. Oleh sebab itulah di CV
Telaga Nursery harus mengikuti standar yang
ditetapkan oleh BPSB Jateng
selaku pengawas dan
pemberi sertifikat. Standar
tersebut sangat diperlukan dalam memproduksi bibit untuk menjaga
kestabilan kualitas, dengan
standar yang ditetapkan BPSB
Jateng tersebut diharapkan kualitas bibit dapat ditingkatkan menjadi
varietas unggul sehingga siap
untuk dipasarkan dan dapat memenuhi kebutuhan
bibit dalam negeri.
B. Rumusan Masalah Menghasilkan tanaman
yang berbuah dengan
baik perlu bibit
yang baik pula. Artinya pemilihan
bibit harus dilakukan secara selektif. Kesalahan memilih
bibit dapat menyebabkan
tanaman tumbuh tidak
normal atau lama berbuah.
Bibit juga menentukan sifat tanaman yang berproduksi yaitu tanaman nantinya
berbuah unggul atau
tidak, sehingga CV.
Telaga Nursery harus menciptakan
bibit yang unggul agar diperoleh hasil yang benar – benar sesuai dengan keinginan konsumen.
CV.
Telaga Nursery mengupayakan untuk memenuhi
syarat bibit berkualitas dari BPSB Jateng dimana permintaan
dari instansi pemerintah ada yang
mewajibkan label dari BPSB Jateng untuk setiap bibitnya. Pelaksananya jumlah
benih yang dibibitkan
sering tidak sama
jumlahnya dengan jumlah bibit tumbuh yang sesuai dengan syarat bibit
berkualitas BPSB Jateng. Hal ini disebabkan
kurangnya keterampilan dari
tukang kebun dalam
melakukan kegiatan pembibitan
kelengkeng BPSB Jateng
sehingga bibit kelengkeng tumbuh tidak sesuai dengan persyaratan bibit
BPSB Jateng.
Tabel 3. Jumlah Bibit Kelengkeng Itoh, Diamond River, dan Pingpong yang Akan Disertifikasi No
Tanggal diajukan Bibit yang diajukan Bibit yang tidak memenuhi syarat Bibit yang memenuhi syarat 1.
Sumber : BPSB Jateng (2009) Berdasarkan Tabel 3.
diketahui bahwa pada
bulan Februari dan
April tahun 2009 sejumlah 1.900 bibit yang ditebar tidak semuanya
menghasilkan bibit yang memenuhi
syarat pembibitan buah-buahan
bersertifikat BSPB Jateng, yaitu hanya sejumlah 1.200 bibit.
Sebanyak 700 bibit tidak memenuhi syarat
sehingga tidak semua
bibit yang dibibitkan
dapat tumbuh memenuhi syarat
bibit berkualitas BPSB Jateng.
Syarat bibit bersertifikat
BPSB didasarkan pada
tinggi tanaman minimal
25 cm per
10 bulan, anakan
bibit berasal dari indukan
yang sudah pernah
berbuah, daun hijau
segar, batang kekar,
antara sambungan entres
kelengkeng terlihat sempurna.
Kegiatan pembibitan kelengkeng
tidak seluruhnya diawasi
oleh BPSB Jateng.
Bibit berlabelkan BPSB Jateng
hanya dijual calon pembeli
yang mensyaratkan pelabelan
BPSB Jateng. Namun demikian CV. Telaga Nursery harus tetap menghasilkan
bibit kelengkeng yang berkualitas meskipun tidak
seluruhnya diawasi oleh BPSB
Jateng.
Sehubungan dengan hal diatas, maka
permasalahan yang akan diangkat dalam
penelitian ini adalah: 1. Masalah apa
yang terkait dengan kualitas bibit kelengkeng di CV. Telaga Nursery ? 2.
Masalah apa yang
paling dominan mempengaruhi
kualitas bibit kelengkeng di CV Telaga Nursery? 3. Faktor
apa saja yang
mempengaruhi kualitas bibit
kelengkeng di CV Telaga
Nursery? 4. Tindakan perbaikan
apa yang paling
tepat untuk diterapkan
dalam peningkatan kualitas bibit
kelengkeng pada CV Telaga Nursery? C. Tujuan Penelitian Penelitian Strategi
Pengembangan Pembudidayaan bibit kelengkeng di CV. Telaga Nursery ini mempunyai tujuan
untuk : 1. Mengetahui masalah
terkait kualitas bibit kelengkeng
di CV. Telaga Nursery.
2.
Mengetahui Masalah yang paling
dominan mempengaruhi kualitas bibit kelengkeng di CV. Telaga Nursery.
3.
Mengetahui faktor apa
saja yang mempengaruhi
kualitas bibit kelengkeng di CV. Telaga Nursery.
4.
Merumuskan tindakan perbaikan
yang paling tepat
untuk diterapkan dalam peningkatan kualitas bibit kelengkeng
pada CV Telaga Nursery.
D.
Kegunaan Penelitian Penelitian
Penelitian Strategi
Pengembangan Pembudidayaan bibit kelengkeng
di CV. Telaga Nursery ini memiliki kegunaan antara lain : 1. Bagi penulis,
menambah wawasan dan
pengetahuan terutama yang berkaitan dengan
topik penelitian serta
sebagai salah satu
syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pertanian.
2. Bagi CV. Telaga Nursery, penelitian ini
sebagai sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan
dalam pengambilan strategi
melakukan pengendalian kualitas untuk mengetahui standar kualitas
bibit kelengkeng di CV. Telaga Nursery 3. Bagi
pembaca, sebagai bahan
pustaka dalam menambah pengetahuan
dan sebagai bahan referensi untuk
penelitian selanjutnya.
0 komentar:
Posting Komentar