Rabu, 17 September 2014

Skripsi Pertanian:Analisis komparasi pengaruh pemberian insentif terhadap kinerja karyawan pada perusahaan olahan terigu di Kabupaten Bantul





  I.  PENDAHULUAN



A.  Latar Belakang Masalah Indonesia adalah  negara agraris yang berarti negara yang
mengandalkan  sektor  pertanian 
baik  sebagai  mata 
pencaharian  maupun  sebagai 
penopang  pembangunan.  Menurut Yulianik (2006) sektor pertanian
merupakan penopang  perekonomian  Indonesia 
karena  pertanian  memberikan 
sumbangan  untuk  kas  pemerintah.Hal  ini 
kemudian  menjadikan  sektor 
pertanian  sebagai  pasar  potensial
bagi produk-produk dalam negeri baik untuk barang produksi maupun  untuk 
barang  konsumsi,  terutama 
produk  yang  dihasilkan 
oleh  subsektor  tanaman pangan.



Indonesia kaya akan
keanekaragaman sumber bahan pangan baik nabati  maupun 
hewani,  guna  pemenuhan 
kebutuhan  gizi  dan 
kesehatan.  Khususnya  sumber pangan pokok sebagai sumber
karbohidrat, ketergantungan pada beras  sangat  tinggi.Untuk 
menghindari  ketergantungan  beras 
yang  harganya  berfluktuatif dan stok yang terbatas maka
pemerintah intensif memperkenalkan  terigu.Pertimbangannya  adalah 
harga  terigurelatif  stabil 
dan  volume  yang  diperdagangkan  cukup 
banyak  serta  beras 
dapat  bersubstitusi  dengan  terigu.Terigumempunyai tingkat partisipasi
konsumsi yang terus meningkat dan  roti  merupakan 
produk  olahan  terigu 
dengan  tingkat  konsumsi 
terbesar  kedua  setelah mi (Susenas, 2002).



Seiring  dengan 
kemajuan  di  berbagai 
bidang  yang  membawa  segalasesuatunya  ke 
arah  yang  lebih 
praktis  dan  efisien, 
maka  preferensi  masyarakat 
juga  berubah  termasuk 
dalam  hal  pemenuhan 
kebutuhan  pangan  yang 
didukung  oleh  perubahan 
pola  konsumsi.  Adanya 
perubahan  pola  konsumsi 
ditunjukkan  oleh  kecenderungan 
masyarakat  saat  ini 
untuk  mengkonsumsi  makanan 
atau  minuman  siap 
saji.  Roti  merupakan 
salah  satu  olahan 
siap  saji  yang 
terbuat  dari  terigu. 
Kebutuhan  akan  roti 
yang  terus  meningkat 
mengakibatkan  beberapa  perusahaan 
harus  meningkatkan  produksi  1    roti.
Menurut Wibisono (2006)  adanya
persaingan antar perusahan yang sangat  ketat,  memaksa  
perusahaan  harus  menata 
ulang  strategi  bersaingnya 
dengan  melakukan  kajian 
terhadap  tujuan  strategik 
perusahaan  yang  didasarkan 
atas  kebutuhan  pasar, 
perbandingan  dengan  perusahaan 
yang  memiliki  kinerja  terbaik 
serta  melakukan  evaluasi 
yang  intens  terhadap 
kompetensi  internal  perusahaan 
itu  sendiri,  baik 
dalam  menciptakan  dan 
memasarkan  produk  maupun 
perekrutan  tenaga  ahli 
dengan  tawaran  gaji 
yang  tinggi  dan 
disertai berbagai macam fasilitas yang menunjang.



Bagi  perusahaan, 
meningkatnya  kinerja  bukan 
hanya  ditentukan  oleh  sumber
daya manusia dalam jumlah yang besar. Tanpa disertai semangat kerja  yang tinggi, maka karyawan tidak akan dapat
bekerja dengan baik, efektif  dan  efisien. Oleh sebab itu, setiap perusahaan
harus mampu memberikan motivasi  atau  dorongan 
kepada  karyawannya  agar 
tidak  ada  permintaan 
yang  tidak  terpenuhi, 
yang  dapat  menurunkan 
semangat  kerja  karyawan. 
Menurut  Prawirosentono  (1999) 
Penggunaan  tenaga  kerja 
secara  efektif  dan 
terarah  merupakan  kunci 
ke  arah  peningkatan 
kinerja,  untuk  itu 
diperlukan  suatu  kebijakan 
perusahaan  dalam  usahanya 
untuk  menggerakkan,  mengajak 
dan  mengarahkan  tenaga 
kerja  agar  mau 
bekerja  lebih  baiksesuai 
dengan  sasaran  yang 
telah  ditetapkan  oleh 
perusahaan.  Hal  ini 
menuntut  peran  aktif 
dari  manajemen  di 
dalam  perusahaan,  sebab 
peranan  manajemen  tersebut 
sangat  penting artinya dalam
upaya peningkatan efisiensi dan produktivitas kerja(Juran  dalam Slamet, 1996).



Hariandja (2002), menyatakan
bahwa faktor–faktor yang mempengaruhi  kinerjaadalah
kemampuan;  kecakapan  yang dimiliki berdasarkan pengetahuan,  lingkungan kerja yang menyenangkan menambah
kemampuan tenaga kerja.



Sikap; yang menyangkut perangai
tenaga kerja yang banyak dihubungkan  dengan
moral dan semangat kerja. Situasidan keadaan lingkungan; faktor ini  menyangkut 
fasilitas  dan  keadaan 
dimana  semua   karyawan 
dapat  bekerja  dengan 
tenang  serta  sistem 
kompensasi  yang  ada. 
Motivasi;tiap  tenaga  kerja    perlu diberikan motivasi dalam usaha
meningkatkan produktivitas. Upah; upah  atau  gaji 
minimum  yang  tidak 
sesuai  dengan  peraturan 
pemerintah  dapat  menyebabkan 
penurunan  produktivitas  kerja. 
Tingkat  pendidikan;  latar  belakang  pendidikan 
dan  latihan  daritenaga  
kerja  akan  mempengaruhi  produktivitas, 
karena  perlu  diadakan  peningkatan 
pendidikan  dan  latihan 
bagi  tenaga  kerja. 
Penerapan  teknologi;  kemajuan 
teknologi  sangat  mempengaruhi  produktivitas, 
karena  itu  penerapan 
teknologi  harus  berorientasi  mempertahankan 
produktivitas.Dalam 
pengelolaannya,  manajemen  perlu  melakukan
tindakan yang mampu menunjang kinerja karyawan baik itu berupa  bonus, 
tunjangan  maupun  insentif.Masalah  insentif 
selain  sensitif  karena  menjadi pendorong seseorang untuk bekerja,
juga karena  berpengaruh terhadap  moral dan disiplin tenaga kerja.



Insentif  adalah 
suatu  penghargaan  dalam 
bentuk  material  atau 
non  material yang diberikan oleh
pihak pimpinan perusahaan kepada karyawan agar  mereka 
bekerja  dengan  motivasi 
yang  tinggi  dan 
berprestasi  dalam  mencapai  tujuan-tujuan 
perusahaan,  dengan  kata 
lain  pemberian  insentif 
adalah  pemberian  uang 
diluar  gaji  sebagai 
pengakuan  terhadap  prestasi 
kerja  dan  kontribusi 
terhadap  karyawan  kepada 
perusahaan.  Menurut   Syaiful 
(2004)  pelaksanaan insentif
dimaksudkan untuk meningkatkan produktifitas karyawan  dan 
mempertahankan  karyawan  yang 
berprestasi  agar  tetap 
berada  dalam  perusahaan.Program  insentif 
individual  memberikan  pemasukan 
lebih  dan  di  atas  gaji 
pokok  kepada  karyawan 
individual  yang  memenuhi 
satu  standar  kinerja individual spesifik.



Daerah  Istimewa 
Yogyakarta  (DIY)  adalah 
sebuah  daerah  otonomi  setingkat 
propinsi  di  Indonesia 
dengan  ibukota    provinsinya 
adalah  Yogyakarta.Di Provinsi
Yogyakarta industri olahan terigu menduduki peringkat  pertama dibanding dengan jumlah industri
kelompok lain.



 
1.  Tabel  Jumlah 
Industri  Berdasarkan  Kelompok 
Produk  di  Provinsi  Yogyakarta NO 
DAFTAR PRODUK   JUMLAH  INDUSTRI 1 
Industri Olahan  Daging (termasuk
daging olahan, seperti : nugget,  bakso,
dll.)  2 
Industri Olahan Ikan dan Produk Olahan 
 3 
Industri Susu, Olahan Susu (susu bubuk, keju, dll.), dan Es krim   4  Industri olahan Bumbu-bumbu   5  Industri Flavour   6  Industri olahan terigu   7  Industri Coklat dan olahannya   8  Industri Minuman dan Bahan Minuman   9  Industri Jamu 
 10  Industri Kosmetik   11  Industri Restaurant dan Katering   12  Industri Lain-lain   Sumber:
Lembaga Pengawas Pangan Obat dan Makanan (LPPOM),  Berdasarkan Tabel 1 diatas dapat diketahui
bahwa Provinsi Yogyakarta  memilikiindustri  olahan 
terigu  terbanyak  apabila 
dibandingkan  dengan  industrilain. 
Hal  ini  disebabkan 
karena   ProvinsiYogyakarta  terkenal 
akan  olahan  terigu 
bakpia,  sehingga  ini 
nerupakan  salah  satu 
faktor  yang  menyebabkan tingginya konsumsi terigu di
Provinsi DIY.



Di  zaman 
modern  seperti  sekarang 
ini,  mempunyai  dampak  ketergantungan terhadap sesuatu yang berbau
instant atau praktis, Misalnya saja  seperti
produk-produk bakery  yang sekarang
sangat mudah didapat dimana saja  dan
dapat dikonsumsi setiap saat.Rotimerupakan produk pangan yang cukup  populer  
di   Indonesia.   Beberapa  
keunggulan  roti  yakni 
tersedia  dengan  berbagai 
variasi  rasa  tawar  
maupun   rasa   manis,  
baik   untuk   anak-anak  hingga  
orang   dewasa,   mudah 
dikonsumsi  kapan  saja 
dan  dimana  saja 
dan  bergizi.    Kandungan  
gizi   dari  roti 
tidak  kalah  unggul 
dibandingkan  dengan  nasi dan mi. Bahkan ada jenis roti yang selain
kaya serat, juga mengandung  omega-3  yang berfungsi sebagai penangkal berbagai
penyakit degeneratif    (Astawan,  1999).Meskipun  dalam 
kenyataannya  roti  belum 
bisamenggantikan  fungsi  nasi 
sebagai  makanan  pokok,akan 
tetapi  seiring  dengan 
berjalannya  waktu  roti 
akhirnya  tidak  lagi 
dikaitkan  dengan  sarapan 
pagi  tetapi  sudah  meluas  sebagai 
menu  makanan  alternatif 
di  segala  kondisi 
dan  waktu  makan.



Kandungan  gizi 
yang terdapat pada roti juga tidak jauh berbeda bahkan lebih  baik 
daripada  nasi  atau  mi  basah.Berikut 
ini  merupakan  data 
mengenai  kandungan gizi roti per
100 gram bahan zat gizi (tabel 2).


Download lengkap Versi PDF








Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.