Senin, 15 September 2014

Skripsi Manajemen:Analisis Pengaruh Penggunaan Hutang Terhadap Earning Per Share Pada Industri Properti dan Real Estate



 BAB I  PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan akan
sumber dana  perusahaan diperoleh dari internal dan eksternal.
Sumber internal adalah dana yang
berasal dari dalam perusahaan, yakni laba ditahan,  dan depresiasi. Laba ditahan ialah bagian dari
laba bersih setelah pajak yang tidak  dibagikan
pada pemegang saham dan ditanamkan kembali ke perusahaan. Dana  eksternal merupakan dana dari luar perusahaan
yakni berupa hutang  dari pihak  eksternal perusahaan.
Dana eksternal merupakan suatu  alternatif pilihan. Ketika perusahaan  menggunakan dana eksternal, berarti perusahaan
memutuskan untuk menggunakan  leverage
dalam struktur modalnya, di mana sumber dana eksternal itu bisa berasal  dari pinjaman jangka pendek, seperti kredit
rekening koran dan promes; pinjaman  jangka
menengah, seperti Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP),  Leasing; dan  pinjaman jangka panjang seperti Kredit Hipotek
dan Kredit Obligasi.
Earning Per Share(EPS) adalah
ukuran untuk melihat tingkat kesejahteraan  bagi pemegang saham/menggambarkan tingkat
balas jasa bagi pemegang saham  biasa.
Penggunaan penggunaan hutang akan mempengaruhi besarnya EPS yang akan  diterima pemegang saham, dimana semakin besar
penggunaan hutang maka semakin  besar
tingkat EPS yang akan diterima (Brigham, 2001:19).
 Penggunaan hutang mengakibatkan perusahaan
harus membayar beban tetap  berupa bunga.
Semakin besar leverage yang digunakan, maka semakin besar biaya  tetap keuangan yang harus dibebankan pada
biaya operasional. Hal ini akan  meningkatkan
ketidakpastian hasil pengembalian bersih yang diterima pemegang  saham. Untuk itu dalam menggunakan hutang maka
perusahaan harus mengukur  seberapa jauh
kemampuan perusahaan untuk membiayai hutang yang hendak  digunakan.
Modal pinjaman dapat berupa utang
jangka panjang dan hutang jangka  pendek,
tetapi karena pada umumnya pinjaman jangka panjang jauh lebih besar dibandingkan
dengan hutang jangka pendek maka perhatian analisis keuangan  biasanya kebih menekankan pada jenis hutang
jangka panjang. Selain itu hutang  jangka
pendek tidak terlalu diperhatikan karena dianggap sebagai ”spontaneous”,  yaitu timbulnya hutang jangka pendek merupakan
sesuatu yang wajar dalam  perusahaan dan
tidak mengakibatkan perusaahaan membayar kewajiban finansial  yang tetap dalam jangka panjang (Syamsuddin,
2007:53, 54) Penggunaan hutang dalam perusahaan dapat diestimasi dengan
menggunakan  rasio leverage yakni Debt to
Equity Ratio (DER), Long Term Debt to Equity Ratio (LDER) dan Long Term Debt to
Capitalization Ratio (LDCR). DER mencerminkan  kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutangnya
melalui modal sendiri. LDER merupakan rasio yang mencerminkan persentase
penyediaan dana oleh pemegang  saham terhadap
kewajiban jangka panjang. LDCR merupakan rasio yang mengukur  seberapa besar modal jangka panjang (total
kapitalisasi) yang dibiayai oleh kreditur  jangka panjang.
 Industri properti dan real estate sangat
digemari oleh masyarakat karena  harganya
yang cederung naik, hal ini disebabkan karena jumlah supply tanah tetap  sedangkan permintaannya senantiasa meningkat
oleh karena itu penentu harganya  bukanlah
pasar, melainkan pemilik dari tanah tersebut. Hal ini membuat para investor  sangat tertarik untuk menanamkan modalnya di
bidang properti dan real estate.
Investasi ialah komitmen atas
sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang  dilakukan saat ini dengan harapan memperoleh
keuntungan di masa mendatang  (Tandelilin
2001:1). Investasi pada bidang properti dan real estate merupakan  investasi yang sifatnya jangka panjang dan
tumbuh sejalan pertumbuhan ekonomi  sehingga
selalu menarik bagi investor untuk mengambil bagian di dalamnya.
Kinerja keuangan emiten properti
dan real estate melalui rata-rata rasio DER,  LDER, LDCR dan EPS tahun 2004-2007 dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.
Data EPS, DER, LDER, dan LDCR
rata-rata perusahaan properti dan  real
estate terbuka di BEI periode 2004-2007  Tahun
EPS (Rp) DER (%) LDER (%) LDCR (%) 2004 
31,85  85,5  19,2 
2,097  2005  56,53 
131,2  31,3  4,802  2006  30,58 
119,4  32,4  3,749  2007  23,24 
148,6  24,6  3,385  Tabel
1.1 : data EPS, DER, LDERdan LDCR rata-rata periode 2004-2007  Sumber  
: www.idx.co.id, diolah Pada Tabel dapat dilihat bahwa kenaikan
penggunaan hutang selalu diikuti  dengan
kenaikan EPS dan penurunan hutangnya juga tidak selalu diikuti dengan  penurunan 
EPS. Berdasarkan fenomena tersebut maka penulis tertarik untuk  melakukan penelitian dengan judul ”Analisis
Pengaruh Penggunaan Hutang terhadap  Earning
Per Share pada Industri Properti dan Real Estate Terbuka di Indonesia”.
 B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar
belakang permasalahan yang dikemukakan sebelumnya,  maka dirumuskan masalah: ”Apakah penggunaan
hutang dengan menggunakan  variabel Debt
to Equity Ratio, Long Term Debt to Equity Ratio, dan Long Term Debt  to Capitalization Ratio berpengaruh terhadap
Earning Per Share pada perusahaan  sektor
properti dan real estate terbuka di Indonesia?” C. Kerangka Konseptual EPS
merupakan indikator nilai perusahaan dan tingkat pendapatan per lembar  saham adalah salah satu nilai statistik yang
paling sering digunakan ketika sedang  membahas
kinerja suatu perusahaan atau nilai saham (Walsh, 2004:148) Penggunaan  hutang yang berbeda-beda akan menghasilkan EPS
yang berbeda pula dan perubahan  EPS
tersebut akan berlanjut mempengaruhi naik turunnya harga saham.
Debt to equity (DER) mencerminkan
kemampuan perusahaan dalam  memenuhi
hutangnya melalui modal sendiri. Perubahan dalam penggunaan hutang  akan mengakibatkan perubahan dalam Earning Per
Share (EPS) dan konsekuensi  pada harga
saham (Brigham dan Weston, 2001:613).
Long Term Debt to Equity Ratio
(LDER) merupakan rasio yang  mencerminkan
persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap kewajiban  jangka panjang. Semakin besar rasio ini
mengidikasikan bahwa dengan stuktur modal  tersebut, resiko yang ditanggung pemegang
saham semakin tinggi (Warsono,  2003:239).
 Long Term Debt to Capitalization Ratio(LDCR)
merupakan rasio yang  mencerminkan
persentase besarnya modal jangka panjang dalam total permodalan  jangka panjang perusahaan yang dibiayai oleh
kreditur jangka panjang  (Syamsuddin,2007:55).
Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Sumber:
Brigham (2001), Syamsuddin (2007) , Warsono (2003), diolah D. Hipotesis
Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah dan kerangka pemikiran yang
diuraikan  sebelumnya maka peneliti
mengajukan hipotesis bahwa: Penggunaan hutang dengan  menggunakan variabel Debt to Equity Ratio,
Long Term Debt to Equity Ratio dan  Long
Term Debt to Capitalization Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap  Earning Per Share perusahaan properti dan real
estate terbuka di Indonesia.




� n
@�# P# ikan dari pekerjaannya.Berdasarkan latar belakang
masalah, maka penulis tertarik untuk  mengambil
judul: “Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Prestasi Kerja  Salesman Pada PT Dunia Kharisma Indonesia
Medan”.
B.  Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang
masalah diatas penulis dapat  merumuskan
masalah sebagai berikut: “Apakah disiplin kerja  berpengaruh terhadap prestasi kerja salesman
pada PT Dunia  Kharisma Indonesia Medan?”.

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.