Rabu, 24 September 2014

Skripsi Keperawatan:Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Frekuensi Kekambuhan Pasien Skizofrenia Paranoid



BAB PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Skizofrenia merupakan gangguan
fungsi otak yang timbul akibat ketidakseimbangan
pada dopamine, yaitu salah satu sel kimia dalam otak.
Skizofrenia adalah gangguan jiwa
psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan
menarik diri dari hubungan antar pribadi
normal. Sering kali diikuti dengan delusi dan halusinasi (puspitasari, 2009).
Data American Psychiatric
Association (APA) tahun 1995 memperkirakan bahwa 1 % populasi penduduk dunia menderita
skizofrenia. Penelitian yang sama oleh
WHO juga mengatakan bahwa prevalensi skizofrenia dalam masyarakat berkisar antara satu sampai tiga per mil
penduduk dan di Amerika Serikat penderita
skizofrenia lebih dari dua juta orang. Skizofrenia lebih sering terjadi pada populasi urban dan pada kelompok sosial
ekonomi rendah (Tomb, 2004).
Hasil survey di Indonesia
memperlihatkan bahwa sekitar 1-2% penduduk yang menderita skizofrenia hal ini berarti
sekitar 2- 4 juta jiwa dari jumlah tersebut
diperkirakan penderita yang aktif sekitar 700.000-1,4 juta jiwa. Demikian juga dengan Irmansyah (2005), bahwa penderita
yang dirawat di bagian psikiatri di
Indonesia hampir 70% karena skizofrenia (Chandra, 2006).
Data yang diperoleh dari Rekaman
Medik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi
Sumatera Utara tahun 2004, pasien gangguan jiwa yang dirawat berjumlah 1.387 orang, dari jumlah tersebut
penderita skizofrenia sebanyak 1.

orang (88,15%). Pada tahun 2005 pasien gangguan jiwa yang dirawat
berjumlah 1.694 orang, dari jumlah
tersebut penderita skizofrenia sebanyak 1.543 orang (91,09%). Dari 1543 orang penderita yang
dirawat pada tahun 2005 sebanyak 1493
orang penderita remisi sempurna (96,76%), dan dari jumlah tersebut penderita yang mengalami kekambuhan sebanyak
876 orang penderita (58,76%).
Data di atas menunjukkan adanya
peningkatan penderita skizofrenia dari tahun ke tahun di Rumah Sakit Jiwa Daerah Propinsi
Sumatera Utara dan juga menunjukkan
tingginya angka kekambuhan pada penderita (Rekaman Medik RSJD Propsu, 2005). Data Rekaman Medik Rumah
Sakit Jiwa Daerah Propinsi Sumatera
Utara tahun 2009 ( Januari-Desember) menunjukkan bahwa pasien skizofrenia paranoid yang rawat jalan sebanyak
3529 orang (Laporan Rekaman RSJ, 2009) Penyakit
skizofrenia seringkali kronis dan kambuh, sehingga penderita memerlukan terapi/ perawatan lama. Di samping
itu semua etiologi, patofisiologi dan
perjalanan penyakitnya amat bervariasi/ heterogen bagi setiap penderita, sehingga mempersulit diagnosis dan
penanganannya. Keadaan seperti ini akan menimbulkan
beban dan penderitaan bagi keluarga. Keluarga sering kali mengalami tekanan mental karena gejala yang
ditampilkan oleh penderita dan juga ketidaktahuan
keluarga menghadapi gejala tersebut. Kondisi inilah yang akan melahirkan sikap dan emosi yang keliru dan
berdampak negatif pada penderita.
Biasanya keluarga menjadi
emosional, kritis dan bahkan bermhan yang jauh dari sikap hangat yang dibutuhkan oleh
penderita (Irmansyah, 2005).
Kekacauan dan dinamika keluarga
ini memegang peranan penting dalam menimbulkan
kekambuhan. Penderita yang dipulangkan ke rumah lebih cenderung kambuh pada tahun berikutnya
dibandingkan dengan penderita yang ditempatkan
pada lingkungan residensial. Penderita yang paling beresiko untuk kambuh adalah penderita yang berasal dari
keluarga dengan suasana penuh permhan,
keluarga yang memperlihatkan kecemasan yang berlebihan, terlalu protektif terhadap penderita (Tomb, 2004).
Demikian juga menurut Sasanto,
mengatakan bahwa banyak hal yang dapat
meningkatkan kekambuhan penderita skizofrenia, salah satu faktor yang paling kuat adalah pengobatan yang tidak
adekuat. Kekambuhan dapat diminimalkan
atau dicegah melalui pengintegrasian antara intervensi farmakologis dan non farmakologis, selain itu dukungan
sosial keluarga juga sangat dibutuhkan untuk
resosialisasi dan pencegahan kekambuhan (Vijay, 2005).
Dukungan sosial merupakan cara
keluarga untuk menghadapi/menangani penderita
skizofrenia sehingga tidak terjadi kekambuhan. Selain itu dukungan sosial keluarga juga merupakan respons
positif, afektif, persepsi dan respons perilaku
yang digunakan oleh keluarga untuk memecahkan masalah dan mengurangi stress yang diakibatkan oleh
penderita skizofrenia. Kekambuhan pada penderita
skizofrenia yang berada di tengah
keluarga merupakan suatu tanda bahwa
keluarga gagal untuk melakukan dukungan sosial dengan baik.
Chandra (2005) menyatakan bahwa
penderita skizofrenia remisi sempurna akan
dikembalikan kepada keluarga, maka keluarga harus mengenal gejala-gejala skizofrenia. Selain itu penderita skizofrenia
sangat memerlukan perhatian dan empati
dari keluarga. Itu sebabnya keluarga harus menumbuhkan sikap mandiri dalam diri penderita, mereka harus sabar serta
menghindari sikap Expressed Emotion (EE)
atau reaksi berlebihan seperti sikap
terlalu mengkritik, terlalu memanjakan
dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan dan menimbulkan kekambuhan (Chandra, 2005).
Pengetahuan dan keterampilan
keluarga dalam merawat anggota keluarga yang
menderita skizofrenia bisa didapat dengan mengikuti program-program intervensi keluarga yang menjadi satu dengan
pengobatan skizofrenia seperti family
psycho education program, cognitive behavior therapy for family, multifamily
group therapy dan lain-lain. Di Indonesia program penanganan keluarga ini belum mendapat perhatian yang
lebih. Hal ini sebenarnya perlu dilakukan
mengingat bahwa: pertama, karena hampir semua penderita tidak dalam perawatan, tetapi berada di tengah keluarga;
kedua, minimnya fasilitas kesehatan mental
membuat penanganan pengobatan penderita tidak optimal dan ketiga penanganan oleh keluarga jauh lebih murah.
Program umumnya bisa meliputi pengetahuan
dasar tentang skizofrenia, penanganan emosi dalam keluarga, keterampilan menghadapi gejala skizofrenia,
serta keterampilan menjadi perawat yang
baik bagi penderita (Irmansyah, 2005).
Demikian halnya dengan penderita
skizofrenia yang dirawat di Rumah Sakit
Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara, mereka membutuhkan dukungan/penanganan yang baik dari keluarga
setelah pulang dari rumah sakit, sehingga
kekambuhan bisa dikendalikan atau dicegah. Kenyataan yang ada di lapangan tidak seperti yang diharapkan, pasien
justru banyak yang mengalami kekambuhan
dan keluarga seolah pasrah dengan kondisi yang terjadi. Hal ini didukung hasil penelitian Saifullah (2005) di
Badan Pelayanan Kesehatan Jiwa Nanggroe
Aceh Darussalam, dimana penerimaan yang tidak baik dari keluarga dapat meningkatkan resiko kekambuhan sebesar
4,28 kali dibandingkan dengan penerimaan
yang baik dari keluarga.
Yosep (2008) mengemukakan, adanya
suatu penyakit yang serius dan kronis
pada diri seseorang anggota keluarga biasanya memiliki pengaruh yang mendalam pada sistem keluarga, khsnya pada
struktur peran dan pelaksanaan fungsi-fungsi
keluarga. Oleh karena itu keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberikan perawatan langsung
setiap keadaan sehat dan sakit terhadap
penderita. Sehingga dalam hal ini perlu adanya peran serta yang besar dari keluarga dalam memberikan dukungan sosial
dan pemenuhan kebutuhannya.

Skripsi Keperawatan:Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Frekuensi Kekambuhan Pasien Skizofrenia Paranoid

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.