Selasa, 16 September 2014

Skripsi Farmasi:Studi Pengaruh Tween 80 dan Minyak Inti Sawit Terhadap Penetrasi Asam Askorbat Melalui Kulit Kelinci Secara In Vitro



 BAB 1  PENDAHULUAN

 1.1 Latar Belakang  Obat 
dapat  diberikan  melalui kulit 
untuk  mendapatkan efek  pada 
tempat  pemakaian, jaringan di
dekat tempat pemakaian, ataupun efek sistemik. Meskipun  terdapat 
banyak  keuntungan  dari 
penyampaian  obat  melalui 
kulit,  seperti  pemakaian yang mudah dan menghindari  first pass 
metabolism, sifat barier kulit  menjadi
suatu tantangan yang sulit bagi penetrasi obat (Chiranjib, et al., 2010).
Lapisan  stratum 
korneum  dari  kulit 
adalah  lapisan  pelindung 
utama  dan  terdiri dari delapan sampai enam belas lapisan
sel yang pipih, berlapis-lapis, dan  berkeratin.  Setiap 
sel  memiliki  panjang 
sekitar  34-44  µm, 
lebar  25-36  µm, 
dan  tebal  0,15-0,2 
µm.  Lapisan  sel 
ini  secara  berkesinambungan  digantikan 
dari  lapisan basal (Washington,
et al., 2003).
Lapisan stratum korneum
diperkirakan memberi 1000 kali tahanan difusi  bagi 
senyawa  hidrofilik  untuk 
penetrasi  ke  dalam 
kulit.  Namun,  untuk 
senyawa  yang  sangat 
lipofilik  dengan  koefisien 
partisi  lipid  banding 
air  lebih  dari 
400,  lapisan  dermis 
yang  hidrofilik  menjadi 
tahanan  absorpsi  sistemik 
yang  utama  (Riviere dan Papich, 2001). Oleh karena
keterbatasan penetrasi obat melalui kulit,  enhancer(peningkat penetrasi) sering
ditambahkan dalam formulasi sediaan obat  topikal (Marzouk, et al., 2012).
Ada  banyak 
mekanisme  untuk  meningkatkan 
penetrasi.  Interaksi  antara  enhancer 
dengan  gugus  polar dari 
lipid  stratum korneum adalah  salah 
satu cara  untuk  meningkatkan 
penetrasi.  Interaksi  antar 
gugus-gugus  lipid  dan 
perubahan   snan lipid menyebabkan
fasilitasi difusi dari obat-obat hidrofilik (Vikas, et al.,  2011). 
Bahan  enhancer  kimia 
dipercaya  bekerja  aktif 
dengan  cara  memecah  snan molekul interselular, terutama lipid
bilayer, yang mempertahankan barier  tahanan  difusi. 
Perubahan  dari  lingkungan 
korneosit  juga  dapat 
mempengaruhi  penetrasi obat
(Walker dan Smith, 1996).
Asam  askorbat 
atau  dikenal  juga 
dengan  vitamin  C 
adalah  bahan  farmasetik yang digunakan dalam kosmetik
sebagai pemutih kulit. Asam askorbat  dapat
mengontrol produksi melanin dengan dua cara, yaitu mengurangi senyawa  intermedit 
melanin,  dopaquinone,  dalam 
reaksi  tirosinase  yang 
menghasilkan  melanin  dari 
tirosin,  dan  mengurangi 
warna  gelap  melanin 
yang  teroksidasi  menjadi bentuk tereduksi yang lebih cerah
(Mitsui, 1997).
Tween  80 
adalah  surfaktan  nonionik 
dan  sering  yang 
digunakan  dalam  formulasi 
sediaan  farmasi,  seperti 
salep  dan  krim. 
Tween  80  diketahui 
dapat  meningkatkan  permeabilitas 
membran  fosfolipid.  Pengaruh 
Tween  80  terhadap  penetrasi 
asam  askorbat  melalui 
kulit  kelinci  telah 
diteliti  sebelumnya.
Kesimpulan  dari 
penelitian  ini  menunjukkan 
bahwa  semakin  tinggi 
konsentrasi  Tween 80 yang
digunakan, semakin besar penetrasi asam askorbat (Akhtar, et al.,  2011). 
Hal  ini  bertentangan 
dengan  hasil  penelitian 
Patel,  et  al., 
(2011)  yang  menyatakan 
bahwa  pelepasan  obat 
tidak  selalu  linear 
dengan  konsentrasi  enhancer 
penetrasi.  Oleh  karena 
itu,  peneliti  tertarik 
melakukan  penelitian  mengenai 
pengaruh  konsentrasi  Tween 
80  terhadap  penetrasi 
asam  askorbat  melalui kulit kelinci secara in vitro.
Sawit merupakan suatu komoditas
Sumatera Utara. Sawit memiliki bagian  yang  dapat 
diolah  menjadi  minyak, 
yaitu  bagian  daging 
buah  dan  bagian 
biji.
 Minyak dari daging buah dan minyak inti memiliki
kandungan asam lemak yang  berbeda
(Khosla, 2006). Kandungan asam lemak terbanyak pada minyak inti sawit  adalah 
asam  laurat,  sedangkan 
pada  minyak  daging 
buah  sawit,  asam 
lemak  terbanyak adalah asam
palmitat (Li, et al., 2012; Mukherjee dan Analava, 2009).
Asam  lemak 
telah  sering  digunakan 
sebagai  enhancer.  Efek 
ini  sangat  dipengaruhi oleh struktur asam lemak dan
pembawa dalam formulasi (Trommer  dan
Neubert, 2006). Minyak daging buah sawit (fraksi olein) telah pernah diteliti  daya 
enhancer-nya  terhadap  aspirin 
melalui  kulit  kelinci 
dan  hasil  penelitian  menunjukkan 
bahwa  minyak  buah 
sawit  dapat  menjadi 
enhancer  (Handoko,  2005). Sejauh studi literatur yang dilakukan
oleh peneliti, minyak inti sawit belum  pernah  diteliti 
sebagai  enhancer pada  sistem 
penyampaian  perkutan.    Peneliti  tertarik 
untuk  meneliti  daya 
enhancer  dari  minyak 
inti  sawit  terhadap 
penetrasi  asam askorbat melalui
kulit kelinci.
Dewasa  ini, 
pemutihan  kulit  dengan 
menggunakan  asam  askorbat  dilakukan 
secara  injeksi.  Hal 
ini  sangat  beresiko 
dan  menyebabkan  rasa 
yang  sangat  sakit. 
Selain  itu,  injeksi 
asam  askorbat  ini 
dilakukan  di  salon-salon  kecantikan 
sehingga  mungkin  bukan 
ditangani  oleh  dokter 
yang  bersertifikasi.
Peneliti  tertarik 
membuat  suatu  sediaan 
topikal  asam  askorbat 
yang  efektif  memutihkan 
kulit  sehingga  mengghasilkan 
suatu  produk  pemutih 
kulit  yang  efektif, aman, dan mudah digunakan.
 1.2 Kerangka Pikir Penelitian  Secara skematis, kerangka pikir penelitian
ditunjukkan pada Gambar 1.1.
 
Variabel bebasVariabel terikat Parameter Gambar 1.1 Kerangka pikir
penelitian  1.3 Perumusan Masalah  Berdasarkan 
uraian  pada  latar 
belakang,  maka  permasalahan 
dalam  penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:  a.  Apakah terdapat korelasi antara peningkatan
konsentrasi Tween 80 dengan  peningkatan
penetrasi asam askorbat melalui kulit kelinci secara in vitro?  b. 
Apakah terdapat korelasi antara peningkatan konsentrasi minyak inti
sawit  dengan peningkatan penetrasi asam
askorbat melalui kulit kelinci secara in  vitro?  c.  Apakah 
kombinasi  Tween  80  dan  minyak 
inti  sawit  memiliki 
daya  peningkat  penetrasi 
yang  lebih  besar 
dibandingkan  dengan  tidak  dikombinasi?
 Konsentrasi  minyak inti  sawit  Penetrasi
asam  askorbat  melalui kulit  kelinci secara in  vitro dengan  Tween 80 dan  minyak inti  sawit sebagai  enhancer.
Konsentrasi  Tween 80  Penetrasi  Jumlah asam  askorbat  berpenetrasi  Lag time  Koefisien difusi  1.4 Hipotesis  Berdasarkan 
perumusan  masalah  diatas 
maka  hipotesis  penelitian 
ini  adalah sebagai berikut:  a. 
Terdapat  korelasi  antara 
peningkatan  konsentrasi  Tween 
80  dengan  peningkatan penetrasi asam askorbat melalui
kulit kelinci secara in vitro?  b.  Terdapat korelasi antara peningkatan
konsentrasi minyak inti sawit dengan  peningkatan
penetrasi asam askorbat melalui kulit kelinci secara in vitro?  c. 
Kombinasi  Tween  80 
dan  minyak  inti 
sawit  memiliki  daya 
peningkat  penetrasi yang lebih
besar dibandingkan dengan tidak dikombinasi.
1.5 Tujuan Penelitian  Tujuan penelitian ini adalah:  a. 
Mengetahui  pengaruh  peningkatan 
konsentrasi  Tween  80 
terhadap  peneterasi asam askorbat
dalam bentuk sediaan salep melalui kulit kelinci  secara in vitro.

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.