BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Air sangat dibutuhkan oleh manusia dalam
jumlah besar, kekurangan air yang
disebabkan oleh perubahan iklim dapat mengakibatkan bahaya yang fatal bagi makhluk hidup. Kebutuhan akan air bersih
meningkat sesuai dengan pertambahan
penduduk. Di beberapa daerahdapat terjadi kasus-kasus penyakit seperti kolera yang disebabkan oleh konsumsi
air yang terkontaminasi bakteri.
Kualitas air merupakan syarat
untuk kualitas kesehatan manusia, karena tingkat kualitas air dapat digunakan sebagai indikator
tingkat kesehatan masyarakat (Situmorang,
2007).
Pencemaran air bisa terjadi
semakin luas, tergantung dari kemampuan badan
air penerima polutan untuk mengurangikadar polutan secara alami. Apabila kemampuan badan air tersebut rendah dalam
mereduksi kadar polutan, maka akan terjadi
akumulasi polutan dalam badan air sehingga badan air akan menjadi tropik (Kodoatie, 2005).
Kontaminasi logam berat seperti
kadmium (Cd) dan timbal (Pb) dalam air dengan
konsentrasi yang melebihi batas aman yang telah ditentukan dapat menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan
konsumen. Toksisitas akut dari logam-logam
tersebut umumnya menimbulkan gangguan saluran cerna, seperti mual, muntah, dan diare terutama
padaanak-anak. Dalam jumlah yang banyak logam
berat tersebut menyebabkan akumulasi di dalam tubuh. Paparan kronis timbal pada orang dewasa dapat megakibatkan
hipertensi, nefropati, anemia, neuropati
perifer, dan enselopati. Sedangkan
toksisitas kronis kadmium menimbulkan
penyakit paru obstruktif, emfisema, kerusakan tubular ginjal, dan deformasi tulang (Darmono, 2001).
Pencemaran oleh logam berat Cd
pernah terjadi di Toyama Jepang.
Peristiwa ini
mengakibatkanpenduduk menderita penyakit Itai-itai (Ouch-ouch), yakni tulang mengalami pelunakan
(osteomalacia), kemudian menjadi rapuh dan otot mengalami kontraksi karena kehilangan
sejumlah kalsium, serta menderita kelainan
ginjal (Soemirat, 2005). Peristiwa tersebut terjadi karena air irigasi yang digunakan untuk mengairi tanaman padi di sawah
tercemar Cd. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa air irigasi tersebut mengandung Cd yang berasal dari penambangan timah hitam dan bijih seng yang
ada di daerah hulu sungai Jint.
Akibatnya padi yang di panen
mengakumulasikan Cd. Penduduk mengkonsumsi padi tersebut selama bertahun-tahun, sehingga
terjadi biomagnifikasi Cd pada tubuh
manusia. Padi mengakumulasikan Cd sebanyak 1,6 ppm, namun melalui rantai makanan kandungan Cd padatubuh manusia
menjadi 11,472 ppm (Soemirat, 2005).
Dalam air bersih ditemukan
kandungan Cd dan Pbdalam kadar yang berlebih.
Berdasarkan hal diatas maka penulis berminat menentukan ”Analisis Kadmium dan Timbal Dalam Air Bersih”karena
analisistersebut sangat penting untuk
menilai kualitas air bersih.
Masyarakat Medan mengkonsumsi air
bersih untuk keperluan mandi, membersihkan
dan untuk di minum. Air bersih untuk di minum mempunyai persyaratan salah satunya adalah kandungan
logam berat Cd dan Pb tidak melewati
ambang batas sesuai Permenkes 416/MENKES/PER/IX/1990.
Dari hal-hal yang disebutkan di
atas penulis ingin memeriksa kadar Cd dan Pb pada air bersih berupa air sumur gali yang
di konsumsi oleh masyarakat Medan dan
sekitarnya.
1.2
Tujuan 1. Untuk mengetahui dan menetapkan kadar cemaran
logam kadmium (Cd) dan timbal (Pb) dalam
air bersih.
2. Untuk mengetahui apakah kandungan cemaran
kadmium (Cd) dan timbal (Pb) dalam air
bersih masih dalam batas aman berdasarkan PERMENKES 416/MENKES/PER/IX/1990.
1.3 Manfaat Analisis kadmium (Cd) dan timbal (Pb)
bermanfaat untuk menambah wawasan dari
penulis agar dapat mengetahui cara menganalisis kadmium (Cd) dan timbal (Pb) serta efek yang ditimbulkan
kadmium dan timbal dalam air bersih bagi
kesehatan manusia.
0 komentar:
Posting Komentar