Rabu, 17 Desember 2014

Download Skripsi Kedokteran:Gambaran Histopatologi Tumor Payudara di Instalasi Patologi Anatomi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Payudara adalah organ yang dibentuk oleh kelenjar mammae dan merupakan spesialisasi dari kelenjar keringat yang mensekresikan s selama masa laktasi. Tiap payudara terdiri dari 15-20 lobus yang terbagi lagi ke dalam beberapa lobulus yang berisi alveolus. Alveolus yang bertindak sebagai kelenjar penghasil s akan menyalurkan sekretnya ke duktus mamilaris kemudian ke sinus laktiferus dan akhirnya bermuara ke duktus laktiferus di dekat puting s (Junqueira, 2005). Lobulus dan duktus payudara sangat responsif terhadap estrogen karena sel epitel lobulus dan duktus mengekspresikan reseptor estrogen (ER) yang menstimulasi pertumbuhan, diferensiasi, perkembangan kelenjar payudara, dan mammogenesis (Van De Graaff, 1995). Sebagai suatu organ, payudara juga dapat mengalami beberapa kelainan, seperti kelainan bentuk anatomi, peradangan akibat infeksi, dan yang paling sering menimbulkan keluhan adalah munculnya pertumbuhan yang tidak terkoordinasi yang nantinya berkembang menjadi tumor baik tumor jinak maupun tumor yang ganas. Tumor atau dalam istilah medis disebut sebagai neoplasma, secara harafiah berarti pertumbuhan baru. Neoplasma merupakan massa abnormal jaringan yang pertumbuhannya berlebihan dan tidak terkoordinasi dengan pertumbuhan jaringan normal serta terus demikian, walaupun rangsangan yang memicu perubahan tersebut telah berhenti. Hal mendasar tentang asal neoplasma adalah hilangnya responsivitas terhadap faktor pengendali pertumbuhan yang normal (Kumar, 2007). Tumor dapat dibedakan menjadi tumor jinak dan tumor ganas atau lebih sering dikenal dengan sebutan kanker. Suatu tumor dikatakan jinak apabila masih berdiferensiasi baik (secara morfologis dan fungsional masih mirip dengan sel asal), tumbuh perlahan, tidak menginfiltrasi jaringan sekitar serta tidak bermetastasis ke organ lain. Dan hal yang berlawanan terdapat pada tumor ganas atau kanker. Kanker cenderung lebih anaplastik, laju pertumbuhan lebih cepat serta tumbuh dengan cara infiltrasi, invasi, destruksi, sampai metastasis ke jaringan sekitar dan cukup potensial untuk menimbulkan kematian (Kumar, 2007). Tumor dapat muncul pada berbagai organ tubuh manusia dalam bentuk pembesaran organ seperti pada otak, paru, tulang, ovarium, serviks, payudara, dan lain-lain. Namun, angka morbiditas dan mortalitas tumor ganas (kanker) cenderung lebih tinggi bila dibandingkan dengan tumor yang masih dalam kondisi “jinak”. Kanker adalah penyebab kematian ketiga di dunia setelah peyakit kardiovaskular dan penyakit infeksi. Data statistik menunjukkan bahwa kanker payudara adalah kanker yang menempati urutan pertama sebagai kanker terbanyak di dunia, baik di Amerika, Eropa, dan Mediterania. Terdapat pengecualian di Afrika dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, karena urutan pertama ditempati oleh kanker leher rahim kemudian disl oleh kanker payudara (WHO, 2007). Sementara itu, sumber lain juga menyatakan 202.964 orang wanita di Amerika Serikat didiagnosa menderita kanker payudara dan 40.598 orang meninggal akibat kanker payudara (CDC, 2007). Di Indonesia sendiri, terdapat 7.844 (16.9%) orang pasien rawat inap dan sebanyak 8.829 orang (22.33%) pasien rawat jalan yang menderita tumor ganas payudara (Profil Kesehatan Indonesia, 2005). Dan berdasarkan data dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, pada tahun 2007 terdapat 437 kasus baru penderita tumor ganas payudara. Banyak hal yang bisa menjadi faktor yang mempermudah seseorang menderita tumor payudara. Usia yang lebih tua (di atas 30 tahun) menunjukkan resiko menderita tumor payudara terutama kanker payudara lebih besar daripada usia yang lebih muda. Adanya riwayat keluarga yang mengidap tumor payudara, riwayat usia menarke sebelum umur 12 tahun, usia menopause setelah umur 55 tahun, serta usia kelahiran hidup pertama yang semakin tua akan meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mendapat tumor. Selain itu terdapat pula faktor resiko yang masih belum dapat dipastikan seperti paparan dengan rokok, pemakaian kontrasepsi oral, estrogen eksogen, diet tinggi lemak, dan konsumsi alkohol turut mempermudah seseorang mengidap tumor payudara (Smith, 1999). Saat ini, metode yang dipakai untuk mencari tahu apakah seseorang menderita tumor payudara sudah sangat berkembang. Seperti biopsi sampai dengan pencitraan mammografi. Namun, sampai sekarang pemeriksaan histopatologi masih menjadi gold standard dalam menentukan apakah seseorang menderita suatu tumor, khsnya tumor payudara, atau tidak. Dari hasil operasi jaringan yang dicurigai suatu pertumbuhan neoplastik, dapat diketahui bagaimana tipe pertumbuhan jaringan tersebut, apakah ganas atau jinak (Euhus, 2008). Sampai sekarang, belum ada data yang menunjukkan pembagian yang jelas dari tumor payudara tersebut, sementara data ini sangat penting untuk penentuan klasifikasi tumor, sehingga pada akhirnya dapat juga ditentukan penatalaksanaan yang sesuai serta prognosis yang muncul akibat tumor payudara. Maka penulis tertarik untuk mengamati karakteristik gambaran histopatologi tumor payudara tersebut yang nantinya akan diperoleh data yang menunjukkan gambaran histopatologi tumor payudara, baik yang jinak maupun yang ganas, berdasarkan klasifikasi WHO tahun 2003. 1.2. Rumusan Masalah Dengan memperhatikan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah tipe gambaran histopatologi, baik tumor jinak maupun tumor ganas, dari tumor payudara di Instalasi Patologi Anatomi RSUP H. Adam Malik tahun 2009-2010? 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mengetahui tipe gambaran histopatologi tumor payudara, baik tumor jinak maupun tumor ganas di Instalasi Patologi Anatomi RSUP H. Adam Malik- pada tahun 2009-2010.

Contoh Skripsi Kedokteran:Gambaran Histopatologi Tumor Payudara di Instalasi Patologi Anatomi

Downloads Versi PDF >>>>>>>Klik Disini




Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.