Kamis, 25 September 2014

Skripsi Psikologi:Hubungan Antara Pemanfaatan Layanan Bimbingan Karir Dengan Perencanaan Karir



BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Dalam era pembangunan ini, perhatian khs
diberikan pada kualitas sumber daya
manusia. Sumber daya manusia ini harus dikembangkan untuk menjadi sarana pembangunan sebagai pemikir,
perencana, penggerak, pelaksana, dan
pendukung pembangunan. Pendidikan nasional ditugaskan untuk mengembangkan manusia Indonesia, bukan hanya
sebagai tujuan dari pembangunan, tetapi
sekaligus sebagai sarana yang memegang kunci sukses atau gagalnya pembangunan itu sendiri. Generasi
muda yang sedang menjalani proses perkembangan
dengan belajar di institusi pendidikan mempersiapkan diri untuk kelak berpartisipasi dalam usaha-usaha
pembangunan sebagai tenaga kerja yang tidak
bekerja asal kerja, tetapi memegang suatu jabatan yang bermakna bagi pembangunan dan sekaligus mengandung potensi
untuk mengembangkan dan memperkaya
dirinya sendiri. Karena itu, setiap generasi muda harus dibantu menemukan tempatnya dalam dunia kerja yang
sesuai baginya dan sekaligus memberikan
sumbangan maksimal bagi pembangunan nasional (Winkel & Hastuti, 2006).
Pemilihan pekerjaan yang
diharapkan seseorang tidak dapat terlepas dari serangkaian pendidikan yang harus diselesaikan
dalam rangka mempersiapkan diri memasuki
dunia pekerjaan. Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki kewajiban untuk memenuhi tuntutan
bidang pekerjaan tersebut melalui 18 pemberian bekal keterampilan, wawasan, dan
bimbingan yang yang berkaitan dengan
dunia kerja (Winkel, dalam Wati, 2005).
Grotevant (dalam Kartini, 2006)
mengemukakan bahwa sekolah merupakan
konteks sosial yang berpengaruh dalam pemilihan karir remaja.
Sebelum memilih karir, di sekolah
remaja dapat memperoleh berbagai macam informasi
dan pengetahuan lain mengenai alternatif pilihan pendidikan lanjutan dan perencanaan karir melalui proses belajar
mengajar dan bimbingan karir.
Selanjutnya, Winkel (1991) menyatakan
bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan
memiliki kewajiban untuk memenuhi tuntutan bidang pekerjaan tersebut melalui pemberian bekal keterampilan,
wawasan, dan bimbingan yang berkaitan
dengan dunia kerja.
Menurut Levinson & Ohler
(2007), tujuan utama dari pendidikan di sekolah
ialah untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kehidupan yang mandiri dalam masyarakat. Sekolah menjadi
tempat bagi peserta didik untuk mengembangkan
kemampuan akademis dan kemampuan interpersonal yang diperlukan nantinya agar dapat berfungsi
sebagai warga negara yang produktif.
Dalam Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) No.20 Tahun
2003 Pasal 1 ayat 1, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Untuk mencapai
tujuan tersebut, diselenggarakan serangkaian
kegiatan pembelajaran yang bersifat formal, nonformal, maupun 19 informal,
dengan berbagai jenjang, mulai pendidikan usia dinihingga pendidikan tinggi.
Menurut Hayadin (2006), Sekolah
Menengah Umum (SMU) merupakan salah satu
jenjang pendidikan yang ditempuh oleh anak Indonesia dalam mengikuti kegiatan pembelajaran secara formal.
Jenjang ini merupakan tahap yang
strategis dan kritis bagi perkembangan dan masa depan anak Indonesia. Pada jenjang ini anak Indonesia berada pada pintu
gerbang untuk memasuki dunia pendidikan
tinggi yang merupakan wahanauntuk membentuk integritas profesi yang didambakannya. Pada tahap ini pula anak
Indonesia bersiap untuk memasuki dunia
kerja yang penuh tantangan dan kompetisi.
Menurut Ridwan (2005), siswa SMU
dalam fase perkembangannya termasuk
dalam kelompok remaja akhir, yaitu berusia 16-18 tahun. Selanjutnya menurut Havighurst (1992) pada usia tersebut
remaja telah menaruh minat dalam banyak
hal, termasuk diantaranya minat pada pendidikan dan minat pada pekerjaan. Remaja juga memiliki tugas
perkembangan yang harus dilalui di usia remaja,
salah satunya adalah memilih serta mempersiapkan diri ke arah suatu pekerjaan.
Super (dalam Brown, 2002)
menyatakan usia remaja termasuk dalam fase eksplorasi (exploration stage), yaitu semua
individu berusia 15-24 tahun, yang mana
tugas perkembangan karir individu adalah perencanaan garis masa depan (crystallization), yang terutama bersifat
kognitif dengan meninjau diri sendiri dan situasi hidupnya. Pada fase ini individu telah
memikirkan berbagai alternatif jabatan,
tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat.
20 Super
(dalam Winkel & Hastuti, 2006)menyatakan bahwa ketika berada di usia remaja individu mulai merumuskan ide
mengenai pekerjaan yang sesuai dan mulai
mengembangkan konsepsi diri mengenai pekerjaan yang berimplikasi terhadap keputusan tentang pilihan
studilanjutan. Remaja mulai mengenal dan menerima hal-hal yang diperlukan untuk membuat
keputusan karir dan memperoleh keputusan
lain yang relevan. Remaja mulai menyadari minat dan bakatnya dan bagaimana bakat dan minat itu
nantinya berhubungan dengan kesempatan
kerja. Remaja juga mulai mampu mengidentifikasi kemungkinankemungkinan yang ada
sehubungan dengan bakat dan minat ini serta mengikuti pelatihan untuk mengembangkan dan meningkatkan
bakat dan minat mereka agar lebih
optimal saat bekerja nanti.
Memiliki perencanaan untuk
pemilihan karir dan mempersiapkan diri dalam
masa transisi dari sekolah kedunia kerja sangatlah penting dan dapat dikembangkan sedini mungkin.
Sayangnyakebanyakan peserta didik tidak memiliki
persiapan dan perencanaan sebelum memutuskan pilihan karir mana yang diinginkan (Levinson & Ohler, 2007).
Quint & Plimpton (2002)
menemukan bahwa kualitas perencanaan karir peserta didik di sekolah maupun di rumah serta
tingkat aktivitas perencanaan dalam
pendidikan lanjutan masih rendah. Hal ini dikarenakan sekalipun peserta didik berencana untuk melanjutkan pendidikan
ke Perguruan Tinggi namun mereka tidak
juga mengambil langkah-langkah atau melakukan hal-hal penting yang dibutuhkan untuk pendidikan lanjutan.
Penelitian Triana (dalam Wati,
2005) menunjukkan bahwa 45% siswa SMU
belum memiliki perencanaan mengenai karir yang akan dipilihnya, karena 21 masih
mengalami keraguan. Dapat dikatakan siswa belum memiliki perencanaan karir yang terarah.
Menurut Wati (2005), siswa SMU
seringkali mengalami kesulitan dan kebimbangan
dalam menentukan pilihan Perguruan Tinggi dan jurusan yang hendak dipilihnya. Tidak jarang siswa memilih
Perguruan Tinggi tanpa disertai dengan
pemahaman yang baik mengenai bakat, minat, dan kemampuan dirinya.

Skripsi Psikologi:Hubungan Antara Pemanfaatan Layanan Bimbingan Karir Dengan Perencanaan Karir

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.