Kamis, 25 September 2014

Skripsi Psikologi:Hubungan antara Social Support dengan Optimisme



BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Acquired Immunodeficiency Syndrome atau
Acquired Immune Deficiency Syndrome
(AIDS) adalah salah satu penyakit kronis dan juga penyakit yang bersifat fatal (Feist, 2010), yang saat ini
melanda seluruh dunia. Penyakit ini tidak mengenal batas negara dan juga menyebar ke
seluruh lapisan masyarakat. Di Indonesia
sendiri epidemi AIDS berlangsung hampir 20 tahun namun diperkirakan masih akan berlangsung terus dan
memberikan dampak yang tidak mudah
diatasi (Alman, dalam Taylor, 2009) AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi
(sindrom) yang timbul karena rusaknya
sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV.
Virus ini menyerang sel darah putih (CD4) yang berfungsi
sebagai sistem kekebalan tubuh dan
merusaknya serta menjadikannya tempat berkembang biak dan menghasilkan HIV baru. Tanpa kekebalan tubuh, manusia
mudah diserang penyakit, tubuh lemah
tidak mampu melawan penyakit sehingga penderita dapat meninggal dunia akibat penyakit ringan sekalipun seperti
influenza atau pilek biasa. Individu dengan AIDS rentan terjangkit penyakit yang
mengancam (Sarafino, 1998). Orang yang
terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap berbagai masalah fisik yang terjadi akibat penurunan daya tahan
tubuh. Penderita akan rentan terhadap berbagai penyakit terutama penyakit infeksi
(infeksi opportunistic) seperti TB paru,
pneumonia, herpes simpleks/zoster, diare kronis, hepatitis C, sarkoma kaposi,
limpoma, infeksi gastrointestinal, infeksi/kelainan neurologik
(Ignatavicius & Bayne, 1991; Bare
& Smeltzer; Depkes R.I., 2003).Penanganan terhadap penyakit ini
telah ada, akan tetapi sampai saat ini belum
ada vaksin yang dapat melawan virus tersebut. Para ahli berusaha mendapatkan obat untuk mengatasi AIDS, dan
obat itu disebut sebagai Antiretroviral
Agents (ARV). Akan tetapi, obat ini tidak dapat menyembuhkan AIDS, hanya dapat memperlambat pertumbuhan HIV
pada tahap awal (Taylor, 2006).
Depkes RI tahun 2005 memprediksi
pada tahun 2010 penderita HIV/AIDS akan
mencapai 93.968 hingga 130.000 orang. Dan data menunjukkan sampai Maret 2009 tercatat 17.988 orang pengidap HIV
dan AIDS. Jumlah tersebut diyakini masih
jauh dari jumlah sebenarnya dan masih akan terus meningkat (Ditjen PPM & PL Depkes RI, 2009).
Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS
Nasional sampai 30 Desember 2009, rerata kasus HIV/AIDS adalah 8,15 per 100.000 penduduk. Tingkat usia penderita
kasus HIV/AIDS 49,57% berada pada
rentang umur 20-29 tahun. Sementara 29,84% rentang umur 30-39 tahun dan 8,71% pada usia antara 40-49 tahun (Rinda,
2010). Project Officer Global Fund Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Andi Ilham
Lubis mengatakan dari laporan yang
diterima Dinkes Sumut selama Juni 2010 lalu, tercatat 2260 penderita HIV/AIDS di Sumut. Rinciannya, penderita HIV
sebanyak 884 orang dan AIDS sebanyak
1.376 orang. Sedangkan pada Juli 2010, terjadi peningkatan menjadi 2.291 orang, dimana penderita HIV 909 orang
dan AIDS 1.382 orang (Adela Eka, 2010) Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah
orang-orang yang secara positif didiagnosa
terinfeksi virus HIV. ODHA adalah seseorang yang yang setelah menjalankan tes atau pemeriksaan darah
dinyatakan terinfeksi HIV/AIDS (Tuapattinaja,
2004). Orang-orang yang mungkin tertular virus HI ini tidak memandang usia, dan latar belakang. Semua
orang bisa saja terinfeksi oleh virus ini.
Akan tetapi ditemukan kelompok berisiko tinggi seperti pengguna napza suntik (penasun), pekerja seks (pria &
wanita), waria, dan lelaki suka lelaki.
Angka prevalensi HIV pada penasun
cukup tinggi di Surabaya (56%), Medan (56%),
Jakarta (55%), dan Bandung (43%). Angka prevalensi HIV pada waria sangat tinggi di Jakarta (34%), Surabaya
(25,2%) dan Bandung (14%). Angka prevalensi
HIV wanita penjaja seks (WPS) tertinggi terdapat di Papua 15,9%, berikutnya Bali 14,1%, Batam 12,3%, Jawa Barat
11,6%, Jakarta 10,2%, Jawa Tengah 6,6%,
Jawa Timur 6,5%, dan Medan 6,1% (Rinda, 2010). Sementara laporan Departemen Kesehatan tentang situasi
perkembangan kasus HIV/AIDS mengungkapkan,
cara penyebaran virus ini secara kumulatif diketahui melalui heteroseksual yang mencapai persentase 49,7%,
disl IDU (Injection Drugs Use)
penggunaan jarum suntik pengidap narkoba secara bergantian 40,7% dan hubungan seksual sesama laki-laki 3,4% (Rinda,
2010).
Sejak ditemukannya penyakit AIDS
(Acquired Imuno Deficiency Syndrome) dan
virus penyebabnya HIV (Human Imunodeficiency Virus), muncul dampak yang begitu luas bagi individu dengan
HIV/AIDS dan juga di masyarakat dan dampak yang ditimbulkan adalah dampak
negatif seperti masalah fisik, psikososial,
emosional dan spiritual pada ODHA (Bare & Smeltzer, 2002).
Individu yang positif terinfeksi HIV, salah satu masalah ditunjukkan dengan perubahan karakter psikososial yaitu:
hidup dalam stres, depresi, merasa kurangnya
social support, dan perubahan perilaku (WHO dalam Nasronudin, 2004). ODHA menjalani kehidupannya terasa
sulit karena dari segi fisik individu tersebut
akan mengalami perubahan yang berkaitan dengan perkembangan penyakitnya, tekanan emosional dan stres
psikologis yang dialami karena dikucilkan
oleh keluarga dan teman karena takut tertular, serta adanya stigma sosial dan diskriminasi di masyarakat.
Wolcott, dkk (dalam Ader, 1991) mengemukakan
bahwa penderita HIV/AIDS menghadapi situasi hidup dimana mereka sering menghadapi sendiri kondisinya
tanpa dukungan dari teman dan keluarga
yang memberi dampak kecemasan, stres, depresi, rasa bersalah dan pemikiran.
Dewasa ini pandangan
masyarakat terhadap ODHA sudah sedikit mengalami perkembangan ke arah positif. Akan
tetapi sebagian besar masyarakat masih
memberikan stigma dan diskriminasi kepada penderita HIV/AIDS. Faktorfaktor yang
menimbulkan stigma dan diskriminasi di masyarakat adalah karena penyakit HIV/AIDS dapat mengancam jiwa, informasi yang kurang
tepat mengenai penyakit HIV/AIDS dan adanya kepercayaan dimasyarakat bahwa penyakit ini adalah merupakan suatu “hukuman”
atas perbuatan yang melanggar moral atau
tidak bertanggungjawab sehingga penderita HIV/AIDS itu “pantas” untuk menerima perlakuan-perlakuan yang tidak
selayaknya mereka dapatkan, sehingga
penderita HIV harus dihindari (Sarafino, 2006).
Ketakutan karena pengalaman dan kemungkinan
mendapat stigma dan diskriminasi
menambah beban pikiran dan kecemasan ODHA. Hal ini membuat mereka memiliki penilaian yang kerap kali
salah terhadap orang yang mendekati mereka.
Ketakutan mendapat stigma justru membuat mereka sendiri menstigma diri sendiri bahwa mereka akan direndahkan dan
dikucilkan. Pikiran negatif ini membuat
mereka cenderung untuk menarik diri dan menghindari pergaulan dengan orang lain bahkan menghambat mereka
untuk mencari dukungan sosial yang dapat
membantu mereka mengatasi masalah kesehatan yang dialaminya. Hal ini jugalah yang membuat fenomena HIV/AIDS
termasuk dalam fenomena gunung es.
Dimana kasus HIV/AIDS yang muncul kepermukaan masih sangat sedikit tetapi sesungguhnya masih begitu
banyak penderita HIV/AIDS yang tidak terdata
dan tidak pernah diketahui (Sahabat Senandika, Yayasan Spiritia, No. 12, November 2003).
Hidup seorang ODHA sangat
tertekan, karena hidupnya sudah divonis tidak
akan lepas dari virus yang akan senantisa bersarang dalam tubuhnya, juga trauma yang diperoleh dari masyarakat. Orang
dengan HIV/AIDS akan merasa hidupnya
tidak berarti. Pandangan dan harapan masa depan menjadi suram dan gelap dimana hasil dari segala sesuatunya
menjadi sangat buruk, yang dapat memicu
usaha untuk bunuh diri (Preau, dkk., 2008).


Skripsi Psikologi:Hubungan antara Social Support dengan Optimisme

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.