BAB PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Hipertensi merupakan kelainan
kardiovaskuler yang menjadi penyebab kematian
utama di seluruh dunia. Hipertensi adalah keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140
mmHg, atau diastolik lebih besar dari 90
mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat/ tenang (Kuswardhani, 2005).
Data WHO tahun 2000 melaporkan
bahwa hipertensi telah menjangkiti 26,4
% populasi dunia dengan perbandingan 26,6 % pada pria dan 26,1 % pada wanita. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) tahun 2004 menyatakan prevalensi
hipertensi di Indonesia sebesar 14 %, sedangkan menurut profil Kesehatan Indonesia tahun 2004, hipertensi
menempati urutan ketiga sebagai penyakit
yang paling sering diderita oleh pasien rawat jalan (Yogiantoro, 2006).
Tahun 2006 hipertensi menempati
urutan kedua penyakit yang paling sering diderita oleh pasien rawat jalan Indonesia
(4,6%) setelah ISPA (9,32%) (Depkes, 2007).
Hipertensi bukanlah penyakit
dengan kausa tunggal. Pendapat tersebut dibenarkan
oleh Yogiantoro (2006), bahwa faktor risiko hipertensi antara lain adalah faktor genetik, umur, jenis kelamin,
etnis, stress, obesitas, asupan garam, dan
kebiasaan merokok. Menurut Kusmana
(2009), faktor resiko yang bertanggung jawab terhadap kondisi
tersebut adalah kadar kolesterol tinggi,
tembakau, konsumsi sayuran dan buah yang
rendah, serta kurang aktif bergerak.
Menurut Sheps (2005), individu
separuh baya yang berumur 45 tahun atau lebih mempunyai resiko sebesar 90% untuk mengidap
penyakit hipertensi.
Hipertensi yang tidak terkontrol
dengan baik dapat meningkatkan terjadinya
komplikasi penyakit kardiovaskular yang lebih mengancam jiwa yaitu stroke, penyakit jantung koroner, penyakit aterosklerosis,
arteri koronaria, hipertropi bilik kiri,
gagal jantung, serta gangguan pada mata
dan ginjal. Hasil Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT, 2001), penduduk berusia diatas 25 tahun menunjukkan bahwa 27% laki-laki dan 29%
wanita menderita hipertensi, serta
terdapat 50% penderita tidak menyadari
sebagai penderita, sehingga penyakitnya
lebih berat karena tidak merubah dan menghindari faktor risiko (Depkes, 2003).
Hipertensi merupakan penyakit yang memerlukan
terapi dalam pengobatannya, maka sangat diperlukan
managemen hipertensi yang didasarkan pada
kepatuhan terapi. Tujuan terapi hipertensi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan darah sitolik di bawah
140 mmHg dan tekanan darah diastolik di
bawah 90 mmHg dan mengontrol faktor resiko (Ganiswarna, 2007).
Menurut Katzung & Bertram
(2007), ada dua terapi yang dilakukan untuk mengobati hipertensi yaitu terapi farmakologis
dan terapi non farmakologis.
Terapi farmakologis yaitu dengan
menggunakan obat-obatan antihipertensi yang terbukti dapat menurunkan tekanan darah,
sedangkan terapi non farmakologis atau disebut
juga dengan modifikasi gaya hidup yang meliputi berhenti merokok, mengurangi kelebihan berat badan, menghindari
alkohol, modifikasi diet serta yang
mencakup psikis antara lain mengurangi stress, olahraga, dan istirahat (Astawan, 2002).
Keberhasilan suatu terapi tidak
hanya ditentukan oleh diagnosis dan pemilihan obat yang tepat, tetapi juga oleh
kepatuhan (compliance) pasien untuk melaksanakan terapi tersebut. Salah satu
faktor yang mempengaruhi pasien hipertensi
dalam menjalankan program terapi adalah pengetahuan (Saputro, 2009). Menurut Irmalita (2003) kebanyakan
pasien tidak meminum obat antihipertensi
sesuai dengan yang diresepkan dan menghentikannya setelah 1 tahun. Hal ini disebabkan karena kurangnya
pengetahuan pasien tentang program terapi
hipertensi. Oleh karena itu, sangat penting memberikan edukasi tentang manfaat pengontrolan tekanan darah dalam
jangka panjang untuk mencapai hasil terapi
yang diinginkan (Kaplan, 2001). Pentingnya informasi mengenai hipertensi akan menambah pengetahuan sehingga pasien
hipertensi dapat mengendalikan tekanan
darahnya melalui program terapi yang diikutinya (Ragot, et al., 2005).
Kepatuhan mencakup kombinasi antara kontrol tekanan darah dan penurunan
faktor resiko yang dilakukan pasien.
Keberhasilan dalam mengendalikan tekanan
darah tinggi merupakan usaha bersama antara pasien dan dokter yang menanganinya. Kepatuhan seorang
pasien yang menderita hipertensi tidak
hanya dilihat berdasarkan kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi tetapi juga dituntut peran aktif pasien dan
kesediaannya untuk memeriksakan kesehatannya
ke dokter sesuai dengan jadwal yang ditentukan serta perubahan gaya hidup sehat yang dianjurkan (Burnier,
2001).
Ketidakpatuhan pasien hipertensi
terhadap program terapi merupakan masalah
yang besar pada penderita hipertensi. Diperkirakan 50% diantara mereka menghentikan pengobatan dalam 1 tahun
pemulihan. Pengontrolan tekanan darah yang
memadai hanya dapat dipertahankan pada 20%, namun bila pasien berpartisipasi aktif dalam program terapi,
termasuk pemantauan diri mengenai tekanan
darah dan diit, kepatuhan cenderung meningkat karena dapat segera diperoleh umpan balik sejalan dengan perasaan
semakin terkontrol (Brunner & Suddarth,
2001).
Berdasarkan hal diatas peneliti
merasa tertarik untuk meneliti “Hubungan Pengetahuan Pasien Hipertensi dengan Kepatuhan
Pasien dalam Pelaksanaan Program Terapi
di Poliklinik Rawat Jalan RSUP Haji Adam Malik Medan.” 2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dari latar belakang
penelitian, dapat dirumuskan permasalahan
penelitian bagaimana hubungan pengetahuan pasien hipertensi dengan kepatuhan pasien dalam pelaksanaan
program terapi di Poliknik Rawat Jalan
RSUP Haji Adam Malik Medan.
3. Tujuan Penelitian 3.1 Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan pengetahuan pasien
hipertensi dengan kepatuhan pasien dalam pelaksanaan program terapi di Poliklinik Rawat Jalan RSUP Haji
Adam Malik Medan.
3.2 Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi karakteristik pasien
hipertensi di Poliklinik Rawat Jalan
RSUP Haji Adam Malik Medan.
b. Mengidentifikasi pengetahuan pasien
hipertensi di Poliklinik Rawat Jalan
RSUP Haji Adam Malik Medan c.
Mengidentifikasi kepatuhan pasien hipertensi dalam pelaksanaan program terapi di Poliklinik Rawat
Jalan RSUP Haji Adam Malik Medan d. Mengidentifikasi hubungan pengetahuan pasien
hipertensi dengan kepatuhan pasien dalam
pelaksanaan program terapi di Poliklinik Rawat Jalan RSUP Haji Adam Malik Medan
4. Manfaat Penelitian 4.1 Praktek Keperawatan Sebagai bahan masukan
bagi perawat dalam pemberian pendidikan kesehatan
kepada pasien hipertensi tentang pentingnya kepatuhan dalam menjalankan program terapi yang dianjurkan
oleh tim medis.
4.2 Pendidikan Keperawatan Sebagai bahan
informasi tambahan kepada tenaga pendidik dalam memberikan materi tentang hipertensi dan
menambah pengetahuan peserta didik
tentang kepatuhan pasien dalam pelaksanaan program terapi hipertensi.
4.3 Penelitian Keperawatan Hasil penelitian ini
dapat memberikan informasi tambahan bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian dalam
ruang lingkup yang sama dan terhadap
penyakit kardiovaskuler yang lain.
0 komentar:
Posting Komentar