BAB I PENDAHULUAN
I.A. Latar Belakang Masalah Masa
remaja adalah suatu periodedalam perkembangan individu yang merupakan masa transisi antara masakanak-kanak
dan masa dewasa yang meliputi
perubahan-perubahan biologis, kognitif dan psikososial (Santrock, 2001).
Selanjutnya Monks (2001) membagi
usia remaja dalam tiga tahapan yaitu : remaja awal (12-15 tahun), remaja tengah (15-18
tahun), dan remaja akhir (18-21 tahun).
Di sepanjang kehidupan, setiap
individu menghadapi tugas-tugas perkembangan
tertentu. Individu juga akan memiliki krisis di setiap tahap perkembangannya. Hal ini dikemukakan oleh
Erikson (dalam Monks, 2001) dimana jika
individu tersebut gagal menyelesaikan
krisis tersebut dapat menyebabkan
masalah dalam self, konsep diri dan harga dirinya. Salah satu tugas perkembangan pada masa remaja adalah menerima
keadaan fisik dan menggunakan tubuhnya
secara efektif (Hurlock, 1999). Remaja sering merasa gelisah dengan penampilan fisik mereka (Dacey
& Kennny, 1997). Seringkali penyimpangan
dari bentuk badan khas wanita atau khas laki-laki menimbulkan kegusaran batin yang cukup mendalam karena
pada masa ini perhatian remaja sangat
besar terhadap penampilan dirinya (Monks, 2001). Apabila remaja gagal dalam menjalankan tugas perkembangan ini, maka
akan menyebabkan masalah dalam self,
konsep diri dan harga dirinya.
Pada masa remaja, yang berkembang
bukan hanya fisiknya saja tetapi juga kognitif,
hubungan sosial, kemandirian, dan harga diri (Papalia, Olds & Fieldman, 2001). Pada dasarnya manusia memiliki
kecenderungan untuk memberi penilaian terhadap
segala sesuatu, termasuk terhadap dirinya sendiri (Sukadji & Singgih, 2001). Menurut Tambunan (2001) masa yang
paling penting dan menentukan perkembangan
harga diri individu adalah masa remaja. Harga diri adalah penilaian yang dibuat individu mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan dirinya yang diekspresikan
ke dalam sikap setuju atautidak setuju, sehingga terlihat tingkat dimana individu meyakini dirinya sebagai
individu yang mampu, penting, sukses, dan
berharga (Coopersmith, 1967). Selanjutnya Santrock (2002) menyatakan harga diri adalah dimensi evaluatif global
harga diri.
Harga diri yang tinggi akan membangkitkan rasa
percaya diri, ingin tahu, mandiri,
percaya pad ide-idenya, menyukai tantangan-tantangan baru dan memprakarsai aktifitas yang baru dengan penuh
percaya diri, mendeskripsikan dirinya
secara positif dan bangga pada hasil kerjanya, cepat menyesuaikan diri dengan baik, tidak mudah frustasi, gigih dalam
mencapai suatu tujuan, dan dapat menerima
kritikan. Seseorang yang harga dirinya rendah akan menggambarkan dirinya secara negatif, tidak percaya
padaide-idenya sendiri, kurang percaya diri, kurang bangga pada hasil kerjanya, kelihatan
tertekan, duduk memisahkan diri dari
anak yang lain, menarik diri, cepat putus asa pada saat frustasi, dan kurang dewasa dalam menanggapi stress (Papalia, Olds
& Fieldman, 2001) Harga diri diperoleh melalui prosespengalaman
yang terus menerus terjadi dalam diri
seseorang (Branden, 1981). Harga diri individu terbentuk berdasarkan pada pandangan orang lain terhadap dirinya dan
bagaimana individu sendiri mempersepsikan
pengalaman hidupnya (Baron & Byrne, 1997). Kebutuhan harga diri pada individu merupakan kebutuhan yang
sangat penting (Maslow dalam Tjahningsih
& Nuryoto, 1994).
Penelitian menunjukkan bahwa harga diri
penting bagi remaja sebagai motivasi
untuk sukses, meraih prestasi, dan meraih kesehatan mental. Remaja dengan harga diri yang tinggi merespon stress
dalam hidup nya secara konstruktif dan
memiliki cara yang positif dalam memecahkan masalah. Individu dengan harga diri yang rendah lebih sering mengalami
gangguan emosional dan perilaku seperti:
cemas, depresi, kenakalan remaja, bunuh diri, penyalahgunaan obatobatan, dan
eating disorders(Dacey & Kenny, 1997).
Hasil penelitian 50 studi meta-analysis
terhadap harga diri sepanjang rentang
kehidupan, menyatakan bahwa pada masa kanak-kanak dan remaja awal harga diri relatif kurang stabil namun menjadi
lebih kuat pada masa remaja akhir dan
dewasa awal (Trzesniewski et al., dalam Shaffer, 2005).
Laki-laki pada umumnya
menunjukkan harga diri yang lebih tinggi daripada perempuan setelah remaja awal,
sedangkan perempuan dilaporkan memiliki
harga diri yang rendah selama masa remaja tengah dan akhir (Cairns et al. dalam Kaplan, 2000). Dimana pada masa
remaja tengah dan akhir, remaja berada
pada tingkat pendidikan SMA.
Hasil penelitian yang dilakukan Afiatin & Martaniah (1998) terhadap remaja SMA di Kotamadya Yogyakarta menunjukkan
bahwa permasalahan yang banyak dirasakan
dan dialami oleh remaja pada dasarnya disebabkan oleh kurangnya kepercayaan diri. Masalah
tidakpercaya diri karena tubuhnya dinilai kurang/tidak ideal baik oleh orang lainmaupun
oleh dirinya sendiri. Kurangnya percaya
diri merupakan salah satu karakteristik individu yang memiliki harga diri yang rendah. Penilaian mengenai penampilan
fisik inilah yang dinamakan dengan body
image.
Body image adalah sikap yang
dimiliki seseorang terhadap tubuhnya yang dapat berupa penilaian positif atau negatif
(Cash & Pruzinsky dalam Thompson, 1999).
Monks (2001) menyatakan bahwa remaja merupakan salah satu penilai yang penting terhadap tubuhnya sendiri sebagai
rangsang sosial. Individu yang memiliki
body imagepositif lebih disukai daripada individu yang memiliki body imageyang rata-rata atau negatif (Berscheid et
al. dalam Noppe & Hughes, 1985).
Eating Disorder Awareness and Preventionatau yang disingkat dengan EDAP dalam Small 2001) menyatakan bahwa
seseorang yang body imagenya positif,
memiliki persepsi yang jelas dan benar tentang bentuk tubuh, dan menghargai bentuk tubuh itu. Orang-orang ini
juga merasa nyaman dan percaya diri
terhadap tubuh mereka. Wanita cenderung merasa sangat memiliki body imageyang positif ketika mereka menilai diri
mereka sendiri sebagai orang yang memiliki
berat di bawah normal (Basow, 1992).
Eating Disorder Awareness and
Preventionatau EDAP (dalam Small 2001)
juga memberi pendapat bagaimana seseorang yang memiliki body image negatif, yaitu merasa janggal atau tidak
nyaman dengan tubuhnya, memiliki persepsi
yang terdistorsi tentang bentuk tubuh, dimana seseorang merasa bahwa bagian tubuhnya tidak seperti yang seharusnya,
bentuk dan ukuran tubuhnya merupakan
suatu kegagalan dan mereka juga percaya bahwa hanya orang lain sajalah yang menarik. Orang-orang yang
memiliki body imageyang negatif memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk berkembangnya eating disorder, depresi, terisolasi, harga diri yang rendah
dan obsesi untuk menghilangkan berat badan.
Proses pembentukan body imageyang
baru pada masa remaja ke dalam diri
(self) adalah bagian dari tugas perkembangan yang sangat penting dan biasanya remaja putri mengalami penyesuaian
yang lebih sulit daripada remaja putra
(Dacey & Kenny, 1997).
Penelitian menunjukkan bahwa
selama masa remaja, penampilan menjadi lebih
kritis bagi perempuan daripada laki-laki (Allgod-Merten et al. dalam Dacey & Kenny, 1997). Remaja putri lebih sering
mengalami masalah dan merasa tidak puas dengan
body imagenya daripada remaja putra. Remaja putri banyak yang merasa tidak puas dengan berat dan bentuk
tubuh mereka. Keyakinan akan berat dan
ukuran tubuh sangatlah penting dan jika mengalami kelebihan berat badan maka akan menimbulkan ketidakpuasan body image
(Levine & Smolak dalam Cash, 2002).
Adanya ketidakpuasan ini dapat mengarah pada perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, dan menurunnya
harga diri,dimana faktor-faktor tersebut
dapat menyebabkan eating disorders(O, Dea & Abraham dalam Dacey & Travers, 2002).
0 komentar:
Posting Komentar