Kamis, 25 September 2014

Skripsi Psikologi:Hubungan Kohesivitas dengan Perilaku Agresi



BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Masyarakat
Indonesia sering mendengar
ataupun membaca dari
media massa mengenai
kemunculan geng-geng yang
perilaku para anggotanya
sangat meresahkan masyarakat
karena sering melakukan
tindakan diluar batas-batas
norma yang berlaku baik agama maupun sosial (Satrya , 2006).
Misalnya saja, kemunculan geng pelajar atau geng nero
yaitu sekelompok anak perempuan
yang melakukan kekerasan terhadap adik kelasnya
dan sering menggencet
orang-orang yang tidak
mereka sukai. Salah
satunya adalah geng nero Juwana
yang beranggotakan empat remaja putri di Juwana, sebuah kota kecil
di Kabupaten Pati,
sekitar 75 kilometer
di sisi timur
Semarang. Mereka sering melakukan
pelecehan, menampar atau
meludahi korbannya yang
dianggap lebih lemah dari
mereka (Herdjoko, 2007). Kelompok serupa yaitu Geng Gazper diadukan ke pihak polisi
oleh salah seorang
murid SMA 34
ke Polsek Cilandak.
Korbannya Muhammad Fadhil
Harkasaputra yang terluka
dan patah tulang
karena dipaksa berkelahi
dengan orang yang lebih tua di
Geng Gazper.
Banyak
lagi geng-geng lain
yang bermunculan seperti
yang terjadi di
daerah Bandung. Mereka
sering melakukan kekerasan
terhadap korbannya yang
lebih lemah seperti
geng Antimo (Anak
Timoho), Brised (Brigade
Senang Damai), Bazooka(Baziingan Azoo
Kabeh), Bose(Bocah Serangan),
Gali (Gabungan Anak
Liar), GNB (Gerakan
Non Bojo), Gondes
(Gondrong nDeso) Gelit(Gembel
Elit), Jojoba (Jomblo-jomblo Bahagia),
Kansas(KAmi Anak Nakal
Suatu Saat Akan
Sadar), Lapendoz (Lelaki penuh
dosa), PSIM, dan lain-lain (Sastro, 2007).
Geng memiliki
pengertian suatu kelompok
yang memiliki kesamaan karakteristik seperti penampilan, tindakan,
konflik dan perencanaan. Namun karena hasil dari
evolusi, kelompok ini
akhirnya menjadi suatu
bentuk gengster yang
sering melakukan aktivitas yang
becorak anti sosial ( Thrasher, 1963). Geng sangat jelas identik dengan
kehidupan berkelompok, hanya
saja geng memang
memiliki makna yang sedemikian
negatif. Geng bukan sekadar kumpulan remaja yang bersifat informal. Geng adalah
sebuah kelompok penjahat
yang terorganisasi secara
rapi. Dalam konsep
yang lebih moderat,
geng merupakan sebuah
kelompok kaum muda
yang pergi secara bersama-sama dan seringkali menyebabkan
keributan (Triyono Lukmantoro, 2007). Geng seringkali
mengadopsi fitur-fitur tertentu
yang dapat dilihat
dengan jelas seperti
cara berpakaian, potongan
rambut, atau lambang
tertentu yang berfungsi
memperkuat kohesivitas dalam
geng dan mewakili
citra kelompok koheren
di mata kelompokkelompok lain.
Pada
fenomena dan realitas
keberadaan geng sekarang
ini pola terbentuknya sebuah
geng, dimulai dari
sebuah ikatan kebersamaan
dan emosional dari
sebuah komunitas tertentu,
misalnya komunitas sekolah
atau komunitas otomotif
(Muliyani Hasan, 2007)
. Salah satu
bentuk geng yang
awalnya dimulai dari
komunitas otomotif adalah
geng motor. Geng
motor merupakan kumpulan
orang pencinta motor
yang menyukai kebut-kebutan, tanpa
membedakan jenis motor
yang dikendarai, semua membaur
menjadi satu. (Muliyani Hasan, 2007).
Sebelum
muncul geng motor,
ada beberapa geng
yang terbentuk di
kalangan siswa SMP, seperti
geng Tuji (anak-anak SMP di daerah Medan
Barat), GBR (anak-anak SMP di sekitar
Jln. L.L.R.E. Martadinata Bandung), Neo Nazi (anak-anak SMP daerah Buahbatu ke atas dan bawah, Ciwastra,Cirebon
dan sekitarnya), serta STRG (anak-anak SMP
di sekitar Gegerkalong, Semarang).
Geng-geng itu bubar ketika lulus SMP, namun
beberapa beberapa geng, seperti GBR
(Bandung) dan STRG (Semarang) tetap
memiliki penerus dan mengubah gengnya menjadi
geng-geng baru, salah satunya adalah Geng
Moonraker(M2R) (Satrya, 2007).
Anggota M2R
berasal dari berbagai
sekolah, khsnya SMA.
Kebanyakan anggota memakai sepeda motor Yamaha RX-King. Nama Moonrakerdiambil dari judul film agen 007 James Bond pada dekade 1980-an.
Geng-geng
motor lainnya bermunculan
yaitu XTC di
daerah Guruminda Semarang
dan Brigez di SMAN
7 Bandung. Pemilihan
nama-nama geng itu
memiliki cerita masing-masing. Nama
XTC misalnya, merupakan
kepanjangan dari "Exalt
to Coitus" yang
bisa diartikan menyenangi
segala sesuatu yang
berbau seks. Geng
Motor Brigez didirikan
sebagai bentuk perlawanan
terhadap Sakas (Satuan
Keamanan Sekolah),anggotanya siswa
SMAN 7 Bandung,
oleh karena itu
disebut disebut Brigez alias
Brigade Seven, kemudian meluas menjadi beberapa versi yaitu Brigade
Setan atau Brigade Gestapu. Jumlah
anggota geng motor tersebut kini mencapai ribuan. Geng XTC dan
Brigez berani mengklaim
bahwa anggotanya juga
ada yang tercatat
di Sumatra, Kalimantan, dan Bali (Satrya, 2007).
Menurut observasi yang dilakukan oleh peneliti
di lapangan maka ada beberapa geng motor
di Kota Medan
yang perilaku anggotanya
sering mengarah ke
perilaku negatif, seperti
tawuran antar geng atau pemukulan dan perkelahian dengan orang-orang di luar geng mereka yang tidak mereka senangi.
Geng-geng itu diantaranya adalah geng motor
RnR, Simple life, TIB dan geng-geng motor lainnya.
Tindakan yang
dilakukan geng motor
belakangan ini kian
meresahkan warga.
Geng motor
kini memang menjadi
salah satu perhatian
utama pihak berwenang
karena tindakan mereka
kian berani, seperti
salah satu wacana
di surat kabar
harian Pikiran Rakyat yang menyatakan bahwa perilaku geng
motor di beberapa kota di Indonesia akhirakhir
ini bisa dianggap
sudah sangat meresahkan
masyarakat, sehingga dapat dikategorikan
sebagai kondisi patologi sosial atau penyakit masyarakat yang perlu segera diobati (Pikiran Rakyat, Juni, 2008) Banyak pemberitaan di media massa,
terjadinya tawuran, dan perkelahian
antar geng motor dipicu oleh hal-hal
yang kurang rasional dan perilaku agresi yang dilakukan oleh
anggota geng motor
menimbulkan banyak kerugian
yang mesti ditanggung
oleh masyarakat. Seperti yang
diberitakan di Surat Kabar Harian Kompas (November, 2007) tentang
penyerbuan dan pengerusakan
markas polisi di
Jakarta timur yang
diduga dilakukan oleh
oknum komunitas motor.
Kerusakan yang ditimbulkan
menyebabkan kerugian materiil
yang cukup besar karena banyak kaca-kaca bangunan yang pecah, serta beberapa
kendaraan patroli polisi
yang juga menjadi
obyek pelemparan batu
oleh mereka.Tindakan yang
dilakukan oleh oknum ini terjadi karena telah terjadi penangkapan terhadap salah seorang anggota sebuah geng
motor oleh polisi saat mereka terlibat dalam kegiatan balap liar beberapa hari sebelumnya.
(Wiryo, dalam Kompas, November, 2007).
Menurut Inspektur
Polisi Wadi Sa’bani,
Kepala Unit Reserse
Kriminal Polisi Sektor
Bandung Tengah, kasus-kasus
kriminal yang melibatkan
geng sepeda motor belakangan
ini jenis kejahatannya
beragam, mulai pengrusakan
tempat umum,kebutkebutan di
jalan umum, pencurian,
tawuran antar geng
motor, perampokan dengan kekerasan.
Banyak dari mereka
yang membawa senjata
tajam, Samurai, jenis
golok berukuran panjang yang
biasa digunakan oleh kelompok Ninja di Jepang, menjadi senjata (Pikiran Rakyat. 27 November 2007).
Hal serupa juga terjadi di Kota Medan ,banyak bentuk-bentuk
kekerasan yang dilakukan
oleh anggota geng
motor seperti perkelahian
antar geng motor,
pemukulan yang dilakukan
pada anggota geng
motor lain yang
tidak disukai, pemalakan
atau pemerasan yang dilakukan
terhadap anak-anak sekolah, perkelahian dengan anak sekolah, mencaci maki orang-orang yang tidak disukai
terutama yang berasal dari kelompok atau geng lain (Reno Nugraha, 2009).

Skripsi Psikologi:Hubungan Kohesivitas dengan Perilaku Agresi

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.