Rabu, 17 September 2014

Skripsi Pertanian:Curahan waktu dan pendapatan tenaga kerja perempuan pada industri tempe di Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali





   I.  PENDAHULUAN  



A. Latar Belakang  Pengembangan ekonomi lokal dapat meningkatkan
jumlah peluang  kerja masyarakat di
pedesaan. MenurutIfe dan Frank, (2008:425) terdapat  potensi yang lebih besar dalam menggunakan
sumber daya, inisiatif dan  tenaga ahli
lokal untuk membangun industri lokal baru, baik skala kecil,  sedang maupun besar. Banyak pengembangan
ekonomi masyarakat lokal  menggunakan
bentuk ini dan program-program tersebut dapat berhasil dalam  mengembangkan aktivitas ekonomi serta menjadi
kebanggaan dalam prestasi  lokal.



 Pembangunan di pedesaan untuk meningkatkan
pendapatan  rumahtangga merupakan usaha
yang sangat penting karena sebagian besar  rumahtangga yang pendapatannya sangat rendah
berada di pedesaan. Tingkat  pendapatan
yang masih rendah menarik perhatian untuk diteliti karena  berkaitan erat dengan masalah-masalah sosial
ekonomi lainnya dalam  masyarakat desa,
seperti tingkat pendidikan yang masih rendah. Sasaran usaha  peningkatan pendapatan adalah rumahtangga
dengan mengutamakan aspek  tenaga kerja
yang terlibat dalam proses produksi dan kegiatan pencarian  nafkah lainnya (Sajogyo, et al., 1996:1)


 Dinamika ekonomi pedesaan adalah perubahan
yang terjadi di  pedesaan terutama pada
struktur tenaga kerja, sumber utama pendapatan  rumahtangga dan struktur penguasaan lahan.
Jumlah penduduk di Indonesia  semakin
meningkat setiap tahunnya. Hal ini sejalan dengan peningkatan  jumlah angkatan kerja. Fenomena yang terjadi
di bidang ketenagakerjaan  adalah
terjadinya perpindahan tenaga kerja dari pertanian ke luar pertanian.


 Adanya partisipasi angkatan kerja perempuan di
pedesaan  mengakibatkan peran perempuan
dalam kegiatan ekonomi di pedesaan cukup  besar. Kegiatan ekonomi di pedesaan tidak
dapat dipisahkan dengan kegiatan  di
sektor pertanian. Namun, peranan perempuan di sektor pertanian semakin  sempit karena tergeser oleh teknologi baru.
Menurut Sairin (2002:243) adanya    2    program pembangunan di pedesaan menyebabkan
masuknya berbagai  teknologi baru di
daerah pedesaan diantaranya bibit unggul dan huller, dengan  introduksi baru itu petani berhasil
melipatgandakan hasil pertanian sehingga  tingkat kesejahteraan petani turut meningkat.
Namun, dibalik keberhasilannya  itu
berbagai studi menunjukkan bahwa buruh perempuan yang secara  tradisional terlibat pada waktu panen,
khususnya di Jawa, mulai merasakan  semakin
menyempitnya lapangan pekerjaan di sektor pertanian.



 Menurut Sajogyo, et al.(1996:344) keterlibatan
perempuan dalam  pekerjaan yang
menghasilkan nafkah berfungsi meningkatkan pendapatan  rumahtangga, berpengaruh terhadap proses
pengambilan keputusan di dalam  berbagai
kegiatan, termasuk pengambilan keputusan penentuan jumlah anak.



 Besarnya peran perempuan di dalam proses
pengambilan keputusan  mencerminkan sikap
serta tingkat kemandirian dan rasa percaya diri  perempuan.



 Upaya untuk menambah pendapatan rumahtangga
dapat dilakukan  melalui kegiatan di luar
usahatani. Kegiatan di luar usahatani yang berada di  pedesaan adalah industri rumahtangga. Industri
rumahtangga merupakan  alternatif
kegiatan untuk menambah pendapatan rumahtangga di pedesaan.



 Salah satu industri rumahtangga yang
diusahakan masyarakat di Kabupaten  Boyolali
adalah industri tempe. Selain itu ada industri rumahtangga yang lain  seperti industri tahu, roti, kerupuk. Industri
tempe skala rumahtangga  merupakan
industri yang mampu menyerap sejumlah besar tenaga kerja baik  yang terkait langsung dalam proses produksi
tempe maupun yang terkait  dengan
perdagangan bahan yang merupakan masukan maupun produk hasil  olahannya. Industri tempe skala rumahtangga
memiliki peran yang yang  sangat besar
dalam usaha pemerataan kesempatan kerja, kesempatan berusaha,  dan peningkatan pendapatan, khususnya di daerah
pedesaan. Pemilihan  industri tempe skala
rumahtangga dengan alasan bahwa sebagian besar  dikelola oleh perempuan.



 Menurut data dari Dinas Perindustrian,
Perdagangan dan Pengelolaan  pasar
Kabupaten Boyolali, jumlah industri tempe skala rumahtangga di    3    Kabupaten
Boyolali pada tahun 2011 sebanyak 514 unit dengan serapan  tenaga kerja sebanyak 1.179 orang. Di
Kabupaten Boyolali terdapat industri  tempe
skala rumahtangga yang cukup merata di setiap kecamatan meskipun  ada salah satu kecamatan yang masyarakatnya
tidak mengusahakan industri  tempe yakni
di Kecamatan Musuk. Jumlah industri tempe skala rumahtangga  di Kecamatan Simo menempati urutan kedua
tertinggi setelah Kecamatan  Ampel,
dengan serapan jumlah tenaga kerja yang tertinggi di Kabupaten  Boyolali (lihat lampiran 1). Dari80 unit
industri tempe yang ada di  Kecamatan
Simo, diantaranya terdapat 50 tenaga kerja perempuan yang  sekaligus berstatus sebagai pengelola industri
tempe (lihat lampiran 2). Hal ini  menunjukkan
adanya partisipasi masyarakat pedesaan, khususnya perempuan  untuk meningkatkan pendapatan total
rumahtangganya selain dari usahatani.



 Keikutsertaan perempuan dalam menyumbang pendapatan
total  rumahtangganya dapat dipengaruhi
olehbeberapa faktor. Faktor-faktor yang  mempengaruhi
curahan waktu tenaga kerja perempuan, meliputi pendapatan  rumahtangga, umur tenaga kerja perempuan,
pendidikan tenaga kerja  perempuan,
jumlah anggota rumahtangga dan umur anak terkecil. Banyaknya  faktor yang mungkin berpengaruh terhadap
curahan waktu tenaga kerja  perempuan,
maka dari itu diperlukan kajian lebih lanjut mengenai curahan  waktu dan pendapatan tenaga kerja perempuan
pada industri tempe di  Kecamatan Simo
Kabupaten Boyolali.



 B. 
Perumusan Masalah  Industri tempe
yang dikelola dalam bentuk industri rumahtangga,  selalu dihadapkan dengan permasalahan yang
menyangkut bahan baku  kedelai,
ketersediaan dan kualitas faktor produksi, tingkat keuntungan,  pemasaran serta permodalan. Industritempe
skala rumahtangga umumnya  dikelola oleh
perempuan (istri), dimana maksud dari kegiatan mengelola  indutri tempe yang dibangun adalah untuk
membantu suami dalam mencari  nafkah.
Posisi perempuan berada padaperan ganda. Selain sebagai seorang  istri yang mengurus kegiatan rumahtangganya,
perempuan juga ikut  membantu suami untuk
menambah pendapatan keluarga. Pentingnya    4    penelitian
ini yakni untuk mengetahui jumlah curahan waktu tenaga kerja  perempuan pada industri tempe serta kontribusi
pendapatannya terhadap  pendapatan total
rumahtangga di Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali.



 Berdasarkan uraian di atas dapat diidentifikasi
masalah penelitian  sebagai berikut :  1. 
Berapa jumlah curahan waktu tenaga kerja perempuan pada industri tempe  di Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali?  2. 
Berapa besarnya kontribusi curahan waktu tenaga kerja perempuan pada  industri tempe di Kecamatan Simo Kabupaten
Boyolali?  3.  Faktor apa saja yang berpengaruh terhadap
curahan waktu tenaga kerja  perempuan
pada industri tempe di Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali?  4. 
Berapa besarnya kontribusi pendapatan dari industri tempe dan pendapatan
 di luar industri tempe terhadap
pendapatan total rumahtangga di  Kecamatan
Simo Kabupaten Boyolali? C. Tujuan Penelitian  Berdasarkan rumusan permasalahan di atas maka
penelitian ini  bertujuan sebagai
berikut:  1.  Mengetahui jumlah curahan waktu tenaga kerja
perempuan pada industri  tempe di
Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali.



 2. 
Menganalisis besarnya kontribusi curahan waktu tenaga kerja perempuan  pada industri tempe di Kecamatan Simo
Kabupaten Boyolali.



 3. 
Menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap curahan waktu tenaga  kerja perempuan pada industri tempe di
Kecamatan Simo Kabupaten  Boyolali.


Download lengkap Versi PDF








Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.